— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk

Puluhan Hektare Sawah di Luwuk Timur Gagal Panen, Hama Tikus Mengganas, Petani Rugi Besar


Meski berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, tingginya populasi tikus membuat serangan sulit dikendalikan


BANGGAIPOST LUKTIM – Harapan petani padi di Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, untuk menikmati hasil panen musim ini pupus. Puluhan hektare lahan persawahan di Desa Baya dan Desa Uwedikan dilaporkan mengalami gagal panen setelah diserang hama tikus dengan intensitas tinggi hingga menyebabkan sejumlah petakan sawah mengalami puso.

Serangan hama yang terus meluas membuat banyak petani harus menanggung kerugian besar. Tanaman padi yang hampir memasuki masa panen habis dirusak tikus sehingga hasil produksi anjlok, bahkan tidak dapat dipanen sama sekali.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Luwuk Timur, Onsi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa sebelum musim tanam dimulai, pihaknya bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) telah mengingatkan petani agar menerapkan pola tanam dan pengendalian hama secara serentak karena wilayah tersebut termasuk daerah rawan serangan tikus.

“Informasi itu benar. Petani di Desa Baya dan Uwedikan mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus. Sebelum tanam kami sudah melakukan sosialisasi mengenai jalur tanam dan pentingnya pengendalian serentak. Wilayah ini memang sudah kami ingatkan sebagai zona merah terhadap serangan tikus,” ujarnya kepada Banggaipost, Senin (13/7/2026)

Menurut Onsi, ledakan populasi tikus bermula setelah Kelompok Tani Permata Hijau lebih dahulu menanam dan memanen padinya. Ketika sumber makanan di lokasi tersebut habis, kawanan tikus berpindah ke lahan petani lain yang padinya belum dipanen sehingga serangan meluas dalam waktu singkat.

Sejak serangan mulai terjadi, petugas POPT bersama PPL terus melakukan pemantauan lapangan, memberikan pendampingan kepada petani, serta mendorong pengendalian hama secara serentak agar penyebaran tikus tidak semakin meluas.

“Serangan seperti ini memang sering terjadi. Hampir setiap hari kami memantau perkembangan hama di lapangan dan terus mengingatkan petani agar waspada ketika musim tanam memasuki jalur merah. Kami juga mengarahkan petani untuk rutin memasang perangkap tikus setelah penanaman selesai serta merekomendasikan pengendalian melalui pengemposan menggunakan asap belerang dengan bantuan gas,” jelasnya.

Meski berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, tingginya populasi tikus membuat serangan sulit dikendalikan. “Petani sudah melakukan pengendalian, tetapi karena serangannya sangat tinggi dan terjadi secara bersamaan, hama tidak lagi bisa dikendalikan. Akibatnya, ada lahan yang mengalami puso,” tambah Onsi.

Koordinator Pertanian Kecamatan Luwuk Timur, Oktavianus Salata, juga membenarkan bahwa penyebab utama kegagalan panen tahun ini adalah serangan hama tikus.

“Hampir semua sawah yang mengalami gagal panen disebabkan oleh hama tikus. Kami sudah melakukan pengawasan, sosialisasi, dan pendampingan sesuai prosedur. Namun tingginya serangan membuat sebagian lahan tetap gagal panen,” katanya.

Ia menegaskan, dampak terparah hanya terjadi di Desa Baya dan Desa Uwedikan, sedangkan lahan persawahan di desa-desa lainnya masih mampu berproduksi sesuai target.

Terkait kebutuhan operasional petani, Oktavianus juga menjelaskan bahwa pihak penyuluh telah melakukan pendataan dan mengusulkan nama-nama petani kepada dinas terkait untuk memperoleh rekomendasi pembelian solar bersubsidi.

“Pendataan sudah lama kami kirim ke dinas. Beberapa petani sudah memanfaatkan rekomendasi tersebut. Tugas kami melakukan pendataan dan mengusulkan ke dinas, sedangkan rekomendasi pembelian BBM bersubsidi diterbitkan oleh dinas bagi petani yang mengajukan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kritik dan masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan kepada petani.

“Kami sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang diberikan. Hal itu menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah dan meningkatkan pelayanan kepada para petani,” tutupnya.

Gagal panen akibat ledakan hama tikus ini menjadi peringatan bahwa pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus dilakukan secara terpadu, serentak, dan berkelanjutan. Dengan koordinasi yang lebih baik antara petani dan petugas pertanian, diharapkan kerugian akibat serangan hama pada musim tanam berikutnya dapat diminimalkan.(Alin)

'; ?>