Tak heran bila banyak kalangan mencibir setiap aksi pemerintah yang ingin mengajarkan nasionalisme dan kebangsaan kepada para santri. Sebab orang-orang pondok pesantren ini lebih memiliki rasa kebangsaan yang tulus dan siap berkorban apa saja guna membela negaranya.
Mereka ini Cuma punya tanah air satu, Indonesia. Dalam senang dan dalam duka mereka akan tetap di Indonensia.
Toh meski memuji ketulusan para kyai dan santri dalam menolong tanah airnya, banyak kalangan menilai orang-orang pesantren itu terlalu naif.
Sebagian lagi menganggapnya mencari muka, dan sebagian lain mencibir aksi itu sebagai pekerjaan sia-sia, ibarat menyangga beringin yang hampir roboh dengan seutas benang.
Terlepas dari pro-kontra yang mengiringi aksi para ulama itu, pengusaha udik semacam H. Murad Husain, Dirut PT. Kurnia Luwuk Sejati yang tak sempat mengenyam pendidikan tinggi, sudah digetarkannya. Namun Getar, gerakan yang dipimpin mba Tutut setelah aksi spontan para ulama pesantren, justru dinilai para pengamat sebagai gerakan setengah hati.
