Sebab yang dirupiahkan dinilai terlalu sedikit dibanding kemampuan mereka. “Bagi saya sebagai gerakan moral Getar cukup baik, tetapi dia tetap tidak akan mampu mendongkrak nilai rupiah. Sebab perburuan dolar masih tetap berlangsung dengan intensitas yang terus meningkat,”ujar Rizal Ramli mengomentari aksi itu.
Rizal tidak sendirian, Tonny A.Prasentiantono, staf pengajar Fak. Ekonomi UGM, punya pendapat senada. Baginya hasil gerakan ini masih belum signifikan. “Kalau seorang menteri menukarkan U$$ 1.000, berapa yang harus ditukarkan rakyatnya? Ujarnya retoris.
Menurut Tony gerakan ini baru efektif jika dolar yang dirupiahkan jumlahnya besar.” Masa Cuma segitu sih yang mereka punya?” tanya beberapa kalangan sinis.
Sebagian lagi malah mempertanyakan mengapa baru sekarang dirupiahkan. Mengapa tidak dari dulu-dulu sebelum harga dolar sampai diatas Rp.6 ribu/U$$?” Oh tidak, Waktu kursnya masih Rp.4000/U$$ saya sudah tukarkan 1 Juta dolar di BDN Luwuk. Saya kan nasabahnya,” bantah Murad Husain cepat ketika ditanyakan masalah itu.
Aksi tulus sang dermawan asal Kabupaten Banggai ini patut diakui, dan selalu dikenang, telah memberikan kontribusi kepada negara untuk bangkit dari keterpurukan. (*)
