Oleh: Herdiyanto Yusuf,
Wartawan dan Pemerhati Politik, Tinggal di Luwuk
Pilkada Gubernur Sulawesi Tengah memang masih jauh. Kalender politik bahkan baru benar-benar akan memanas (mungkin) dua atau tiga tahun lagi. Artinya, bicara konstestasi politik di daerah sejati masih terlalu pagi. Namun di ruang-ruang diskusi politik lokal, nama dua tokoh ini mulai sering disandingkan: Hadianto Rasyid dan Sigit Purnomo Syamsuddin Said. Bahkan leaflet keduanya mulai bertebaran di jagad maya. Ini salah satunya, yang saya pungut dari serakan medsos.
Menyandingkan Hadi dan Pasha memang menarik. Keduanya bukan tokoh kemarin sore di Sulteng. Yang satu birokrat-politikus lokal dengan elektabilitas kuat di Palu. Yang satu lagi artis nasional yang pernah menyicipi kursi Wawali Kota Palu dan kini duduk di Senayan. Kombinasi keduanya harus diakui sebagai salah satu paket potensial menuju Pilgub Sulteng 2029.
Wacana ini memang belum resmi. Masih bermain di seputaran diskusi warkop dan medos. Belum ada deklarasi. Belum ada baliho berpasangan. Tetapi jangan lupa satu hal: politik selalu dimulai dari percakapan. Dan percakapan itu kini mulai liar.
Hadianto datang dengan modal kekuasaan yang nyata. Dua kali memenangkan Pilwako Palu dengan angka dominan membuat posisinya tidak bisa dianggap sekadar kepala daerah biasa. Ia menguasai ibukota provinsi, punya jaringan birokrasi, mesin partai Hanura di daerah, serta citra pemimpin lapangan yang aktif turun langsung. Bisa dibilang, kalau ada tokoh politik yang saat ini memiliki “magnitude” paling kuat selain gub Anwar Hafid, dia adalah Hadianto.
Di sisi lain, Pasha punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak politisi lokal: popularitas nasional. Bahkan, nama “Pasha Ungu” mungkin jauh lebih dikenal dibanding PAN itu sendiri di banyak tempat. Basis pemilih muda, efek selebritas, pengalaman sebagai Wawali Palu, hingga status anggota DPR RI membuatnya tetap relevan dalam peta politik Sulteng.
Namun ada sisis enariknya. Data historis menunjukan bahwa dua figur ini bukan berasal dari sejarah politik yang sepenuhnya harmonis. Pada Pilkada Palu 2015, mereka justru berada di kubu berseberangan. Hadi menjadi rival pasangan Hidayat–Pasha. Tapi, sekali lagi lupa pada adigium: tidak ada musuh abadi di politik. Rival kemarin, siapa tahu besok menjadi sekutu.
Jadi, di atas kertas, pasangan ini rasa-rasanya sangat menjual. Hadianto menawarkan pengalaman pemerintahan dan basis akar rumput lokal. Pasha menawarkan magnet elektoral dan akses nasional. Satu figur dianggap kuat mengurus pemerintahan, satu lagi kuat mengangkat popularitas.
Namun. lagi-lagi politik tidak hanya soal figur. Problem terbesar justru ada pada kendaraan partai. Hanura dan PAN di DPRD Sulteng pasca Pemilu 2024 hanya mengoleksi total tiga kursi. Jauh dari syarat minimal pencalonan gubernur yang membutuhkan sekitar 11 kursi. Artinya, tanpa koalisi besar, pasangan ini hanya akan menjadi wacana media sosial.
Karena itu, jika duet ini benar-benar disiapkan, maka pertarungan sebenarnya bukan dimulai di rakyat, tetapi di meja lobi partai. Golkar, NasDem, Demokrat, bahkan PKB dan PPP bisa menjadi penentu hidup-matinya poros ini. Apalagi peta Pilgub Sulteng ke depan diperkirakan tetap keras. Figur petahana dan tokoh-tokoh lama masih memiliki pengaruh kuat.
Di sinilah mulai muncul spekulasi lain.
Apakah kemunculan wacana Hadianto–Pasha hanya sebatas testing the water, “tes ombak”? Atau jangan-jangan memang sedang ada konsolidasi diam-diam membangun poros baru di luar dominasi kekuatan lama Sulteng?
Yang pasti, suhu politik acapkali bergerak lebih cepat dibanding kalender resmi KPU. Dan biasanya, ketika nama-nama mulai dipasangkan terlalu dini, itu pertanda ada yang sedang serius menghitung peluang. Wallahu ‘alam.(HY)












