Hal yang sama perlu dilakukan terhadap PPPK paruh waktu. Mereka membutuhkan kepastian bahwa status tersebut benar-benar merupakan bagian dari jalan menuju penyelesaian persoalan, bukan bentuk baru dari ketidakpastian.
Kita tidak perlu memilih antara anak yang makan bergizi dan guru yang sejahtera. Negara seharusnya mampu mengurus keduanya. Anggaran besar untuk MBG harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan anak-anak, sementara anggaran pendidikan harus cukup kuat untuk memastikan sekolah dan gurunya mampu menjalankan fungsi pendidikan dengan baik.
Anak memang perlu kenyang sebelum belajar. Tetapi setelah itu, mereka tetap membutuhkan seseorang yang mengajarkan mereka. Di depan kelas, orang itu adalah guru.
Dan guru yang setiap hari diminta menyiapkan masa depan anak-anak Indonesia semestinya tidak terus-menerus dibuat bertanya-tanya tentang masa depannya sendiri.
Kalau pemerintah benar-benar ingin membangun sumber daya manusia, mungkin sudah waktunya pembangunan itu dimulai dari orang-orang yang setiap hari mengerjakannya.**
