Oleh: Supriadi Lawani\
Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, diberkahi sumber daya air yang luar biasa. Riset Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) bersama Universitas Gadjah Mada pada 2024 menemukan cadangan statis air tanah sekitar 2,92 miliar meter kubik di Luwuk Utara, 2,80 miliar meter kubik di Luwuk Selatan, dan 1,09 miliar meter kubik di Kecamatan Luwuk.
Pada Desember 2025, ekspedisi National Geographic Indonesia bersama DSLNG dan komunitas Iguana Tompotika menelusuri sejumlah mata air di pegunungan Luwuk, antara lain Uwe Sangkolong, Mokokawa, Sapo Langkaii, Mambual, Mangkio, Supak, dan Kontraan.
Angka-angka itu mestinya menjadi kabar baik. Namun, realitas berkata lain. Di Pagimana, krisis pelayanan PDAM membuat ratusan pelanggan tidak menikmati layanan secara optimal. Pada awal Oktober 2026, Komisi III DPRD Banggai bersama PDAM menemukan 14 titik kebocoran pipa transmisi. Dari sekitar 2.000 pelanggan, hanya sekitar 1.300 yang terlayani. Biaya perbaikan diperkirakan mencapai Rp150 juta.
Di sinilah paradoks itu membentang: air melimpah di perut bumi, tetapi warga kehausan di rumah sendiri.
