Iklan Banggai Post
Opini

Mendefinisikan Kembali Pers di Banggai

Kemerdekaan Indonesia yang kita rayakan setiap Agustus juga semestinya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai sekali lalu tinggal diwariskan. Ia harus diisi. Setiap orang memiliki caranya sendiri.

Bagi jurnalis, salah satu cara mengisinya adalah dengan menjaga agar masyarakat tidak kehilangan hak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Mungkin tidak selalu dengan tulisan yang keras. Tidak selalu dengan judul yang ramai. Tidak selalu pula dengan menjadi orang pertama yang menyerang.

Kadang kemerdekaan pers justru hadir dalam keberanian untuk mengatakan sesuatu apa adanya, meskipun tidak menguntungkan siapa-siapa.

Termasuk tidak menguntungkan diri sendiri.

Karena itu, saya kira pekerjaan rumah jurnalisme Banggai bukan bagaimana membuat semua wartawan berdiri dalam satu barisan. Itu tidak perlu.

Kita boleh berbeda. Kita boleh memiliki sudut pandang yang berbeda. Kita bahkan boleh berbeda dalam menilai pemerintah maupun korporasi.

Tetapi kita harus memiliki pijakan yang sama: fakta, verifikasi, etika, independensi, dan kepentingan publik.

Kalau itu bisa kita jaga, perbedaan tidak perlu menjadi faksi. Kritik tidak perlu menjadi permusuhan. Kedekatan tidak harus berubah menjadi keberpihakan. Dan kerja sama tidak harus berakhir dengan hilangnya independensi.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting bukan apakah pers di Banggai sudah merdeka.

Bagikan: