Sebuah pelukan terkadang mampu menyelesaikan kegelisahan yang tak sanggup dijelaskan dengan kata-kata. Begitulah akhir dari pencarian seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang sempat meninggalkan rumahnya di Kecamatan Balantak Utara dan pergi ke Kota Luwuk.
Di balik kepergiannya, tersimpan cerita yang barangkali tak asing di banyak keluarga: keinginan memiliki telepon genggam dan hasrat untuk menikmati kebebasan yang menurutnya masih terlalu dibatasi.
Menurut Kasi Humas Polres Banggai, AKP Saiman, remaja itu berangkat ke Luwuk pada Sabtu (27/6/2026) dan sempat menginap di indekos milik kakaknya di kawasan Pelita, Kelurahan Baru.
Namun keesokan paginya, ia pergi tanpa memberi kabar. Hingga malam menjelang, sosoknya tak juga kembali. “Motif anak tersebut kabur dari rumah diduga karena tak dibelikan ponsel dan tidak bebas keluar rumah oleh orang tuanya,” ujar AKP Saiman, Rabu (1/7/2026).
Sang ibu, SB (58), tak tinggal diam. Berbagai upaya pencarian dilakukan, namun hasilnya nihil. Kekhawatiran seorang ibu akhirnya membawanya melapor ke Polsek Balantak. Laporan itu kemudian diteruskan melalui koordinasi dengan Tim Unit Reaksi Cepat Satreskrim Polres Banggai.
Harapan itu akhirnya menemukan jalannya. Pada Selasa (30/6/2026), petugas berhasil menemukan remaja tersebut di indekos seorang teman prianya berinisial SW (19), di kawasan Kuburan Turki, Luwuk.
Tak ada kisah dramatis. Tak ada pengejaran. Yang ada hanyalah sebuah pertemuan kembali antara seorang anak dan keluarganya. Polisi kemudian mempertemukan keduanya agar dapat kembali berbincang sebagai keluarga. Sementara itu, SW menjalani pemeriksaan di Mapolres Banggai untuk kepentingan penyelidikan.
AKP Saiman mengatakan, kehadiran polisi dalam peristiwa ini bukan semata soal penegakan hukum, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan rasa aman dan membantu menyelesaikan persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kepergian seorang anak, sering kali tersimpan kebutuhan untuk didengar. Sebab, tak semua persoalan keluarga berawal dari hal-hal besar. Kadang, ia tumbuh dari keinginan sederhana yang tak sempat dipahami, lalu berubah menjadi jarak yang akhirnya hanya bisa dipulihkan dengan pelukan.(Alin)












