Viral “Portal dan Kolam”, Warganet Usul Piara Ikan Mas di Pasar Simpong

BANGGAIPOST.COM, LUWUK – Ada-ada saja cara warganet menyampaikan kritik. Menyusul viralnya unggahan bertuliskan “So gaga Pasar Simpong, so ada portal, so ada kolam”, kolom komentar media sosial mendadak berubah menjadi panggung humor. Mulai dari usulan memelihara ikan mas, menebar bibit lele, hingga membuat rakit penyeberangan, semuanya muncul sebagai bentuk satire atas genangan air di sekitar Pasar Modern Simpong. Di balik gelak tawa itu, terselip harapan agar penataan pasar tak hanya menghadirkan portal parkir, tetapi juga diikuti pembenahan jalan dan drainase.

Unggahan yang memperlihatkan kontras antara portal parkir elektronik dengan jalan yang dipenuhi genangan air itu dalam waktu singkat menyebar luas di Facebook. Tak butuh waktu lama, ratusan komentar bermunculan dengan beragam gaya, mulai dari sindiran, guyonan, kritik, hingga dukungan terhadap pemerintah daerah.

Komentar yang paling banyak menarik perhatian datang dari akun Asna Tinolo S. “Piara ikan mas. Itu yang mahal, kalau lele kotorannya bau.” Candaan itu langsung disambut warganet lain. Sri Sukari Agustina menulis, “Tinggal tebar bibit ikan kalau begini.”Paini Paw ikut menimpali. “Ikan lele lepas di situ. Jangan cuma portal, ikan lele juga laku, menghasilkan uang.”

Balasan pun datang dari Irwanto Datuage. “Kemudian, ikan akan digoreng.” Tak mau kalah kreatif, Sary Moms mengusulkan solusi transportasi. “So bole ba bikin rakit penyeberangan.” Sementara Yuliana menulis komentar yang cukup banyak disukai pengguna lain. “Bagus portalnya, tapi kayaknya kolamnya lebih populer.”

Guyonan semakin beragam. Akun Ruang Senyap bahkan menyebut genangan air tersebut layak menjadi destinasi wisata baru. “Destinasi wisata baru, Kolam Mirqueen.” Komentar itu ikut memancing tawa warganet lain yang melanjutkan berbagai candaan seputar “kolam” di kawasan Pasar Simpong.

Humor terus berlanjut. Ningsih Binti Dohan Alimu menyebut genangan itu tak lama lagi akan berubah menjadi danau. “Sadikit lagi som jadi danau itu.” Sementara Muhammad Natsir menulis singkat, “Tinggal mau beli baju renang.” Ada pula Agus Daud yang bercanda hendak memancing. “OTW bastrum ikan lele di sana.”

Di sela-sela candaan, sejumlah komentar justru menyentil persoalan infrastruktur. Akun Jingga Jingga menulis singkat namun mengena. “Portal elit, jalan sulit.” Senada dengan itu, Putra Lahiya berkomentar, “Portal bisa dibuat, jalan tidak bisa digunakan.”

Sebagian warganet juga masih mengaitkan polemik ini dengan pernyataan Bupati Banggai Amirudin Tamoreka yang sebelumnya membandingkan sistem portal Pasar Simpong dengan Jakarta.Akun Nur Andim menuliskan sindiran bernada satire. “Memang gaga Pasar Simpong so bisa baku saing deng perumahan elit di Jakarta. Biar kagak kalah sama perumahan Jakarta. Tapi lihat juga kondisi pasar, banyak genangan air, got penuh jentik nyamuk. Kalau Pasar Tanah Abang Jakarta masih, kalau Pasar Modern Simpong kagak ada apa-apanya.”

Meski demikian, tidak semua komentar bernada kritik. Akun Uak Akrim Nursin Asamin justru mengingatkan agar polemik tersebut tidak sepenuhnya diarahkan kepada Bupati Banggai. “So tdk mo abis-abis cuma bahas Pasar Simpong. Seolah-olah bupati yang salah. So itu jangan kalah di pilkada supaya kamu jangan sakit hati seumur hidup.”

Komentar bernada menyejukkan juga datang dari Nazar Ahmad. “Setiap pemerintahan tidak ada yang sempurna, pasti ada kurang di sana sini. Jangan seolah-olah kita lebih sempurna.”

Sementara Rommy Botutihe mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan pasar. “Harusnya ini jadi perhatian bersama, bukan cuma pemerintah. Warga sekitar juga bisa kerja bakti mengatasi hal-hal begini, tidak usah semua menunggu pemerintah.”

Dukungan terhadap langkah pemerintah juga datang dari akun Iqbal Opa. Menurutnya, penataan Pasar Simpong tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran pedagang dan masyarakat. “Butuh kerja sama semua yang terkait, utamanya dukungan masyarakat dan pedagang. Pedagang juga harus menempati tempat yang sudah disiapkan, sehingga sampah bisa terkontrol dan tidak menutupi drainase,” tulisnya.

Sementara akun Haryanto Haryanto menilai keberadaan portal justru merupakan bagian dari upaya modernisasi pengelolaan pasar. “Bagus itu portal. Fungsinya mengatur akses kendaraan, meningkatkan keamanan, dan membuat retribusi lebih transparan sebagai PAD. Jalan memang perlu dibenahi, tapi penataan parkir juga penting,” tulisnya.

Di sisi lain, sejumlah komentar tetap menekankan pentingnya pembenahan infrastruktur. Akun Aten menulis, “Pembenahan infrastruktur dulu baru portal agar tidak menuai beragam tanggapan dari masyarakat.”

Hal senada disampaikan Nonchy Madalis Noman yang berharap pemerintah memberi perhatian pada lampu penerangan, drainase, dan ruas jalan yang kerap tergenang air.

Fenomena ini menunjukkan polemik Pasar Simpong kini telah berkembang menjadi ruang diskusi publik yang lebih luas. Jika sebelumnya perdebatan berpusat pada portal parkir elektronik, kini perhatian masyarakat bergeser pada kondisi jalan, drainase, hingga kualitas infrastruktur penunjang pasar.

Guyonan tentang “piara ikan mas”, “tebar bibit lele”, “Kolam Mirqueen”, hingga “bikin rakit penyeberangan” memang mengundang tawa. Namun di balik humor itu, tersimpan pesan yang cukup jelas: masyarakat berharap Pasar Simpong tidak hanya modern karena memiliki portal parkir, tetapi juga nyaman dilalui, bebas genangan, dan didukung infrastruktur yang benar-benar layak bagi pedagang maupun pengunjung.(Alin)

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk