Gedung Rp11 Miliar, Rak Sastranya Sunyi


Oleh: Supriadi Lawani


Beberapa hari lalu saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Banggai. Rasa penasaran membawa saya langsung menuju rak yang paling ingin saya lihat: rak sastra.

Bagi saya, perpustakaan bukan sekadar bangunan yang dipenuhi meja, kursi, pendingin ruangan, atau rak-rak yang tersusun rapi. Jantung sebuah perpustakaan adalah buku. Dan jantung dari koleksi buku itu, bagi banyak orang, adalah sastra. Di sanalah manusia belajar memahami sejarah, kekuasaan, cinta, kemiskinan, pengkhianatan, dan harapan.

Saya mulai menyusuri rak demi rak.

Saya mencari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tidak ada.

Saya mencari Cantik Itu Luka dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Tidak ada.

Saya kemudian berharap menemukan Animal Farm atau Nineteen Eighty-Four karya George Orwell. Hasilnya tetap sama, tidak ada.

Saya terus mencari beberapa karya sastra penting lainnya. Jawabannya tetap satu, tidak ada.

Merasa penasaran, saya bertanya kepada petugas perpustakaan. Mereka dengan ramah menjelaskan bahwa jika buku yang saya cari tidak tersedia di rak, saya bisa mencarinya melalui aplikasi perpustakaan digital.

Saya pun membuka aplikasinya.

Hasilnya membuat saya kembali menghela napas. Buku-buku yang saya cari ternyata juga tidak tersedia dalam koleksi digital.

Di situlah saya merasa sedang berdiri di tengah sebuah paradoks.

Kabupaten Banggai kini memiliki gedung perpustakaan baru yang megah. Nilai pembangunannya mencapai sekitar Rp11 miliar. Bangunannya indah, modern, dan tentu membanggakan. Siapa pun tentu patut mengapresiasi hadirnya infrastruktur publik seperti ini.

Namun pertanyaan yang mengusik pikiran saya sederhana, apa arti sebuah perpustakaan yang megah jika karya-karya sastra yang telah menjadi bagian penting dari peradaban membaca justru belum tersedia?

Saya kemudian kembali bertanya kepada petugas. Mereka menjelaskan bahwa sebenarnya tahun ini ada rencana pengadaan buku, tetapi terkendala kebijakan efisiensi anggaran.

Jawaban itu mungkin benar adanya. Namun sebagai warga, saya tetap merasakan ironi yang sulit diabaikan.

Kita mampu membangun gedung bernilai miliaran rupiah, tetapi belum mampu menghadirkan koleksi yang menjadi napas kehidupan gedung tersebut.

Padahal sebuah perpustakaan tidak pernah diukur dari kemegahan bangunannya. Ia diukur dari seberapa jauh mampu mempertemukan masyarakat dengan gagasan-gagasan besar.

Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar novelis. Melalui tetralogi Buru, ia mengajak pembaca memahami sejarah, kolonialisme, nasionalisme, dan martabat manusia.

Eka Kurniawan bukan sekadar penulis populer. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana sejarah, mitos, kekerasan, dan politik saling bertaut dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

George Orwell pun bukan hanya pengarang cerita fiksi. Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four telah lama menjadi bacaan klasik dunia untuk memahami bagaimana kekuasaan dapat bekerja melalui propaganda, manipulasi bahasa, dan pengawasan terhadap masyarakat.

Karya-karya seperti itu seharusnya mudah ditemukan di perpustakaan daerah. Bukan karena semua orang harus sepakat dengan isi atau pandangan para penulisnya, tetapi karena perpustakaan adalah rumah bagi pengetahuan, tempat masyarakat bebas membaca, membandingkan, dan membentuk cara berpikirnya sendiri.

Ironisnya, kita sering lebih bersemangat membangun wadah daripada mengisi isinya.

Kita membangun gedung sekolah, tetapi kekurangan guru.

Kita akan membangun rumah sakit, tetapi kekurangan dokter dan tenaga medis lainnya.

Dan kini kita membangun perpustakaan yang megah, tetapi koleksi bukunya belum mampu memenuhi harapan para pembaca.

Literasi tidak tumbuh karena tembok yang tinggi atau lantai yang mengilap. Literasi tumbuh ketika seorang anak menemukan buku yang mengubah hidupnya. Ketika seorang mahasiswa menemukan referensi yang memperluas cara berpikirnya. Ketika seorang warga biasa pulang membawa buku yang membuatnya melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Beton dapat membangun gedung.

Tetapi hanya buku yang mampu membangun manusia.

Karena itu, setelah pembangunan fisik selesai, pekerjaan yang jauh lebih penting sesungguhnya baru dimulai: menghidupkan perpustakaan dengan koleksi yang kaya, beragam, mutakhir, dan mudah diakses oleh siapa pun.

Sebab perpustakaan bukanlah monumen pembangunan.

Perpustakaan adalah rumah bagi gagasan.

Dan rumah tanpa isi, betapapun megahnya, pada akhirnya hanya akan menjadi ruang yang sunyi.

Luwuk 30/6/2026

Penulis adalah petani pisang

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk