BANGGAIPOST.COM, PAGIMANA – Viralnya foto dan video udara yang memperlihatkan bentang alam Desa Siuna, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, memicu gelombang perhatian publik. Selain memunculkan beragam komentar dari warganet, kondisi tersebut juga kembali mengangkat aspirasi masyarakat setempat yang meminta pemerintah dan instansi terkait lebih serius mengawasi aktivitas perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah mereka.
Masyarakat menilai pengawasan yang ketat diperlukan agar aktivitas pertambangan tetap berjalan sesuai aturan dan tidak menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas di masa mendatang.
Salah seorang warga Desa Siuna, Pardi Ente, mengatakan perusahaan harus menjalankan aktivitas operasional dengan mengedepankan kaidah pertambangan yang baik serta memperhatikan aspek perlindungan lingkungan.
“Kami meminta dinas terkait agar lebih proaktif dalam mengawasi persoalan lingkungan. Perusahaan juga harus menerapkan kaidah pertambangan yang ramah lingkungan sehingga dampak terhadap masyarakat dan alam dapat diminimalkan,” ujarnya.
Menurut Pardi, selain persoalan lingkungan, masyarakat juga menyoroti pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang menjadi kewajiban perusahaan bagi masyarakat di sekitar wilayah tambang.
Ia mengaku masih terdapat perusahaan yang hingga kini belum menjalankan program tersebut secara optimal.
“Ada perusahaan yang sejak tahun 2019 sampai sekarang belum pernah menjalankan Program Pemberdayaan Masyarakat. Padahal program itu merupakan kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan,” katanya.
Warga juga mempertanyakan realisasi program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dinilai belum memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat Desa Siuna.
Menurut mereka, keberadaan perusahaan tambang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan lingkungan sekitar.
Selain itu, Pardi menyoroti kesepakatan yang pernah dibuat antara masyarakat dan sejumlah perusahaan terkait pengendalian debu di kawasan permukiman. Salah satu poin kesepakatan tersebut adalah komitmen perusahaan untuk melakukan penyiraman jalan secara rutin pada ruas jalan yang berada di area pemukiman warga.
Namun, menurutnya, komitmen tersebut belum dijalankan secara maksimal dan berkelanjutan.
“Surat ini sudah berkali-kali kami sampaikan, tetapi lagi dan lagi tingkat kepatuhan dan ketaatan pihak perusahaan masih diabaikan. Sebenarnya maunya perusahaan seperti apa?” tegasnya.
Kolom Komentar Dipenuhi Kekhawatiran Warganet
Sejalan dengan aspirasi warga, kolom komentar media sosial yang membahas foto udara Siuna juga dipenuhi berbagai tanggapan bernada kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan.
Banyak warganet menilai perubahan bentang alam yang terlihat dari udara menjadi gambaran nyata besarnya aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
“Alam hancur, karang mati, hutan gundul, jalan berdebu dan berlumpur. Belajar dari Morowali,” tulis akun Enllsalim.
Komentar tersebut mendapat respons dari sejumlah pengguna lain yang juga membandingkan kondisi Siuna dengan daerah-daerah tambang yang lebih dulu berkembang.
Akun Ruslan Manggarai menyoroti kondisi kawasan pegunungan dan pesisir yang dinilai mulai mengalami tekanan akibat aktivitas pertambangan.
“Siuna gunung digundul, di laut hutan bakau juga dibabat, tapi pemerintah daerah diam seperti tidak ada tindakan. Miris,” tulisnya.
Sementara itu, Fatma Fatma menyoroti kondisi wilayah pesisir dengan komentar singkat, “Lautnya juga sudah tercemari.”
Kekhawatiran terbesar yang muncul dalam percakapan publik adalah potensi terjadinya bencana alam apabila kerusakan lingkungan terus meluas.
“Hanya tinggal menunggu bencana datang,” tulis Ronald Makarisang.
“Tinggal menunggu bencana alam,” komentar Bunga Aprilia Azahra.
“Kalau terjadi bencana alam siapa yang akan bertanggung jawab? Alam sudah rusak,” tulis Nengah Merta.
Komentar bernada serupa juga disampaikan Fhaiz Musa.
“Ini seperti bom waktu yang cepat atau lambat akan meledak.”
Sedangkan akun Omi Lam Akase menulis peringatan singkat yang menarik perhatian pengguna lain.
“Cepat atau lambat akan tinggal kepala burung.”
Sejumlah warga juga mengaku merasakan dampak langsung aktivitas tambang dalam kehidupan sehari-hari.
“Akhirnya terbuka juga tentang tambang nikel Siuna. Dan debu yang berterbangan disaat musim kering dan jaringan selular yang kurang memadai,” tulis Yan Sutama.
Ada pula komentar yang menyoroti manfaat ekonomi yang dinilai belum sebanding dengan perubahan lingkungan yang terjadi.
“Kasian dorang cuma ambil isi daerah ini lalu dibawa ke tempat lain,” tulis Frisjat Chaniago.
Meski demikian, tidak semua komentar bernada negatif. Beberapa pengguna media sosial masih melihat aktivitas pertambangan sebagai bagian dari pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Salah satu kemajuan gerbang timur,” tulis akun S S Lolano.
Namun secara umum, percakapan publik lebih banyak didominasi kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan, masa depan kawasan Siuna, serta harapan agar pemerintah dan perusahaan lebih serius menjalankan kewajiban perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi teknis terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepatuhan perusahaan dalam menjalankan kewajiban lingkungan, Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM), serta tanggung jawab sosial perusahaan melalui program CSR.
Warga menegaskan mereka tidak menolak pembangunan maupun investasi. Namun aktivitas pertambangan diharapkan dapat berjalan selaras dengan kepentingan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta memberikan manfaat yang nyata bagi warga yang hidup di sekitar wilayah operasi tambang.
Viralnya foto udara Siuna dalam beberapa hari terakhir pun menunjukkan bahwa isu lingkungan di kawasan tersebut kini tidak lagi menjadi perhatian masyarakat setempat semata, melainkan telah berkembang menjadi diskusi publik yang lebih luas di Kabupaten Banggai dan Sulawesi Tengah.(Alin)












