Anak-anak Masungkang dan Wajah Pendidikan Kita


Editorial banggaipost.com

Di Luwuk Selatan, sebuah sekolah modern bernama SMP Negeri Mirqan berdiri megah dengan konsep smart school. Gedungnya representatif, fasilitasnya modern, dan menjadi simbol optimisme baru pendidikan di Kabupaten Banggai.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, di Masungkang, puluhan siswa justru gagal mengikuti Ujian Akhir Sekolah karena terjebak banjir sungai yang tidak memiliki jembatan penyeberangan memadai.

Anak-anak itu berdiri di tepi sungai, memandangi arus deras sambil mengenakan seragam sekolah. Mereka tidak sedang bolos. Mereka hanya tidak punya jalan aman untuk sampai ke sekolah.

Pemandangan itu menyentuh sekaligus menyakitkan.

Kita tentu patut mengapresiasi pembangunan fasilitas pendidikan modern di Luwuk, Banggai. Daerah memang perlu bergerak maju. Sekolah yang baik, ruang belajar yang nyaman, dan teknologi pendidikan adalah kebutuhan masa depan.

Tetapi pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada simbol kemajuan di pusat kota.

Sebab di tempat lain, masih ada anak-anak yang setiap musim hujan harus memilih antara keselamatan atau sekolah.

Inilah ironi pembangunan pendidikan kita. Ketika perdebatan publik ramai membahas nama sekolah, branding fasilitas, dan simbol pembangunan, ada persoalan yang jauh lebih mendasar belum terselesaikan: akses aman menuju sekolah.

Jembatan mungkin terdengar sederhana dibanding gedung smart school. Tidak megah. Tidak instagramable. Tidak mudah dijadikan simbol pencitraan pembangunan. Tetapi bagi anak-anak Masungkang, jembatan adalah masa depan.

Tanpa akses yang aman, sekolah semewah apa pun tidak akan berarti bagi mereka yang bahkan kesulitan tiba di ruang kelas.

Editorial ini bukan untuk membenturkan satu sekolah dengan sekolah lain. Bukan pula untuk menolak kemajuan. Tetapi pemerintah perlu diingatkan bahwa wajah pendidikan yang adil tidak hanya diukur dari gedung yang berdiri megah, melainkan dari sejauh mana negara hadir memastikan semua anak bisa bersekolah dengan aman dan layak.

Sebab pendidikan yang sesungguhnya tidak boleh hanya dinikmati mereka yang dekat dengan pusat pembangunan. Anak-anak Masungkang juga berhak merasa bahwa negara sedang membangun masa depan mereka.(*)