Namun satu hal semakin jelas. Persoalan Sulawesi Timur hari ini tampaknya bukan lagi terletak pada aspek kelayakan. Potensi ekonomi, luas wilayah, kompleksitas geografis, serta berbagai kajian akademik telah memperkuat dasar pembentukannya. Tantangan yang tersisa adalah memastikan seluruh pemangku kepentingan memiliki kemauan yang sama untuk mengubah seluruh prasyarat tersebut menjadi sebuah keputusan.
Sebab, selama pertanyaan “siapa yang menghambat?” belum pernah dijawab secara terbuka, perjuangan Sulawesi Timur akan terus berada di persimpangan: diakui layak, tetapi belum juga dilahirkan. (*)
