BANGGAIPOST, NAMBO – Polemik dampak lingkungan akibat aktivitas industri di Kecamatan Nambo kian mengemuka. Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kabupaten Banggai melalui perwakilannya, Hermanius Burunaung, akhirnya angkat suara dan melontarkan kritik tajam terhadap kondisi yang terjadi.
Menurut Hermanius, kehadiran industri yang semestinya menjadi motor penggerak ekonomi justru memunculkan ketimpangan sosial serta degradasi lingkungan yang semakin dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah lingkar tambang dan pabrik.
“Peringatan Hari Buruh tidak boleh hanya menjadi seremoni. Ini momentum untuk melawan ketidakpatuhan investor terhadap aturan yang ada,” tegasnya.
Ia menilai, masyarakat Nambo saat ini tidak menikmati kesejahteraan dari aktivitas industri, melainkan harus menghadapi dampak polusi yang berpotensi mengancam kesehatan jangka panjang.
“Warga hari ini bukan menghirup udara kesejahteraan, tapi debu industri yang membahayakan masa depan anak cucu,” ujarnya.
Lebih jauh, Hermanius menyoroti buruknya tata kelola industri yang dinilai telah menciptakan jurang sosial. Janji lapangan kerja bagi masyarakat lokal disebut tidak sepenuhnya terealisasi, sementara risiko lingkungan justru menjadi beban yang harus ditanggung warga tanpa kompensasi memadai.
Tak hanya itu, implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) juga tak luput dari kritik. Ia menyebut program CSR perusahaan cenderung bersifat formalitas dan belum menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
