Merinding, Begini Penampakan Hutan Siuna yang Diabadikan Warganet dari Dalam Pesawat

BANGGAIPOST.COM, LUWUK – Hamparan hutan di kawasan Siuna, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, yang selama ini jarang terlihat dari dekat, kini menjadi perhatian publik setelah diabadikan dari ketinggian ribuan kaki oleh seorang penumpang pesawat.

Adalah Billy Nataniels, seorang warganet yang membagikan foto udara kawasan Siuna saat menumpang pesawat Wings Air rute Luwuk–Manado. Awalnya ia duduk seperti biasa, namun kemudian berpindah ke kursi dekat jendela di bagian belakang pesawat. Pemandangan yang tersaji di bawahnya membuatnya terdiam.

“Banyak ya berseliweran tentang Siuna dan pertambangan nikel di Kab. Banggai. Sepanjang mata memandang, wow. Kaget ia. Merinding ia. Tapi di sisi lain tak memungkiri masifnya pertambangan ini,” tulis Billy dalam unggahan yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

Dari foto yang dibagikan, terlihat bentang alam yang kontras. Area-area terbuka berwarna cokelat kekuningan membentuk pola melingkar di sejumlah bukit, sementara jalur-jalur tambang tampak membelah kawasan yang sebelumnya didominasi tutupan hutan. Di kejauhan terlihat garis pantai yang menandai kawasan pesisir Siuna.

Bagi sebagian orang, pemandangan tersebut menjadi simbol besarnya aktivitas pertambangan nikel yang kini berlangsung di wilayah itu. Namun bagi yang lain, foto tersebut memunculkan pertanyaan tentang dampak lingkungan yang ditinggalkan di balik geliat industri strategis nasional.

Indonesia memang saat ini menjadi salah satu produsen dan eksportir nikel terbesar di dunia. Kebijakan hilirisasi yang didorong pemerintah pusat telah memicu peningkatan investasi dan aktivitas pertambangan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Banggai.

Di Desa Siuna sendiri, sedikitnya terdapat enam perusahaan tambang nikel yang beroperasi, yakni PT Penta Dharma Karsa, PT Prima Dharma Karsa, PT Prima Bangun Persada Nusantara, PT Integra Mining Nusantara Indonesia, PT Anugerah Bangun Makmur, serta PT Bumi Persada Surya Pratama.

Masifnya aktivitas pertambangan tersebut sebelumnya juga telah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Banggai. Pada Agustus 2025, Bupati Banggai Amirudin memanggil perwakilan enam perusahaan tambang menyusul berbagai aduan masyarakat serta hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Banggai.

Sejumlah persoalan yang mengemuka saat itu meliputi dugaan deforestasi, banjir, kerusakan lahan pertanian, abrasi pantai, pencemaran sumber air, hingga reklamasi kawasan mangrove untuk kepentingan penimbunan ore nikel.

Pemerintah daerah bahkan melibatkan tim penegakan hukum lingkungan (Gakkum) dari tiga kementerian untuk melakukan verifikasi lapangan. Perusahaan-perusahaan yang terbukti melanggar aturan lingkungan diingatkan dapat menghadapi sanksi, termasuk kemungkinan pencabutan izin.

Unggahan Billy yang viral kini kembali mengingatkan publik pada dilema yang kerap muncul di daerah kaya sumber daya alam: antara dorongan pembangunan ekonomi melalui industri ekstraktif dan kebutuhan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Bagi masyarakat Siuna dan wilayah sekitarnya, isu tersebut bukan sekadar perdebatan angka investasi. Di sana terdapat lahan pertanian, kebun, kawasan pesisir, dan sumber penghidupan warga yang selama puluhan tahun bergantung pada kondisi alam.

Seperti yang dituliskan Billy di akhir unggahannya, “Ga mau berkoar, ga mau mengurusi karena sadar diri. Hanya bisa berkata dalam hati…”

Kalimat singkat itu mungkin mewakili perasaan banyak orang yang menyaksikan perubahan bentang alam Siuna dari waktu ke waktu. Sebuah pengingat bahwa di balik posisi Indonesia sebagai raksasa nikel dunia, terdapat cerita-cerita lokal yang terus menuntut perhatian dan pengawasan agar pembangunan dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan.(Alin)

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk