BANGGAIPOST.COM, BATUI SELATAN – Di saat sebagian besar siswa hanya perlu memikirkan soal ujian yang ada di hadapan mereka, anak-anak di Desa Masungkang, Kecamatan Batui Selatan, justru harus lebih dulu menaklukkan derasnya arus sungai.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa memilih jalur alternatif dengan menyeberangi dua sungai untuk menuju lokasi ujian pada hari ketiga pelaksanaan ujian sekolah.
Video yang diunggah akun Facebook Ketut Suartama itu menunjukkan para pelajar berjalan melalui akses darurat setelah jalur yang biasa mereka gunakan tidak dapat dilalui akibat kondisi sungai yang meluap.
Tak ada kendaraan pengangkut. Tak ada jembatan alternatif. Yang terlihat hanya sekelompok anak sekolah yang berusaha mencapai ruang ujian dengan cara apa pun agar tidak kehilangan kesempatan mengikuti pelajaran dan ujian.
Peristiwa ini menjadi ironi tersendiri. Sebab hanya beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 25 Mei 2026, puluhan siswa SMP Satap Batui 5 dilaporkan gagal mengikuti hari pertama Ujian Akhir Sekolah (UAS) karena tidak dapat menyeberangi Sungai Kayua yang meluap akibat hujan deras.
Kini, pada hari ketiga ujian, sebagian siswa memilih mengambil risiko melalui jalur alternatif daripada kembali kehilangan kesempatan mengikuti ujian.
Video tersebut sekaligus memperlihatkan dampak nyata terganggunya akses penghubung di wilayah Masungkang. Persoalannya tidak lagi sekadar menyangkut infrastruktur yang rusak, tetapi telah berdampak langsung pada hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan layak.
Kondisi ini juga kembali mengingatkan publik pada persoalan lama yang belum terselesaikan, yakni belum tersedianya akses penghubung yang memadai bagi warga Masungkang.
Selama bertahun-tahun, anak-anak di wilayah itu harus berhadapan dengan ancaman banjir dan arus sungai hanya untuk berangkat ke sekolah. Setiap musim hujan, persoalan yang sama kembali terulang.
Di tengah situasi tersebut, semangat para siswa untuk tetap mengikuti ujian patut diapresiasi. Namun semangat saja tidak cukup. Keselamatan anak-anak seharusnya tidak bergantung pada keberanian mereka menyeberangi sungai.
Video yang beredar hari ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan tersebut sesungguhnya sudah lama diketahui pemerintah. Pada September 2023, dalam laporan Kompas TV, Pemkab Banggai melalui Kabag Protokol dan Komunikasi Muhlis Pampawa menyatakan pembangunan jembatan penghubung Masungkang–Batui 5 akan segera dianggarkan. Bahkan Dinas PUPR disebut telah diminta melakukan survei lokasi.
Dua tahun berselang, pada November 2025, pembangunan jembatan kembali diberitakan telah memasuki tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED). Namun hingga kini, anak-anak Masungkang masih harus mencari jalur alternatif dan menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke sekolah.
Hingga Selasa (2/6/2026), video tersebut terus mendapat perhatian warganet dan kembali memunculkan pertanyaan yang sama: sampai kapan anak-anak Masungkang harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi mendapatkan hak atas pendidikan, sementara jembatan yang dijanjikan sejak 2023 belum juga terwujud. (Sri/Rdk)












