El Niño Mulai Pengaruhi Sulteng, BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering


“Potensi kejadian El Niño ini ada kemungkinan 60 persen itu terjadi di akhir Mei, Juni, Juli, dan Agustus,”


BANGGAIPOST.COM, PALU — Fenomena iklim El Niño diprediksi mulai memengaruhi wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah, pada periode Mei hingga Juli 2026. Dampaknya diperkirakan menyebabkan musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah daerah di Sulteng.

Berdasarkan prediksi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau tahun ini. Penurunan curah hujan bahkan diprediksi dapat mencapai hingga 40 persen di beberapa wilayah.

Perwakilan BMKG Sulawesi Tengah melalui SPAG Lore Lindu Bariri, Solih Alfiandy, menyebut kondisi tersebut masih tergolong lemah hingga moderat dan tidak seekstrem wilayah lain di Indonesia bagian timur.

“BMKG melalui SPAG Lore Lindu Bariri memprediksi sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah akan mengalami curah hujan di bawah normal pada musim kemarau 2026. Secara umum berdampak, tetapi tidak signifikan. Penurunan curah hujan maksimal sekitar 40 persen, sehingga masih terdapat potensi hujan di sejumlah wilayah,” ujarnya dalam keterangan yang dirilis melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Sulteng, Mei 2026.

Sementara itu, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, sebelumnya juga telah mengingatkan adanya potensi kemunculan El Niño sejak akhir Mei 2026.

“Potensi kejadian El Niño ini ada kemungkinan 60 persen itu terjadi di akhir Mei, Juni, Juli, dan Agustus,” katanya.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sulawesi Tengah akan terjadi pada September hingga Oktober 2026.

Sejumlah dampak mulai diantisipasi pemerintah daerah, di antaranya potensi kekeringan meteorologis, penurunan debit sungai, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga ancaman terhadap sektor pertanian.

Wilayah yang dinilai rawan karhutla antara lain Kabupaten Parigi Moutong, Sigi, Poso, serta kawasan Lore Lindu. Selain itu, sekitar 24.903 hektare sawah di Sulawesi Tengah disebut masuk kategori rawan terdampak kekeringan.

Risiko lain yang turut diwaspadai yakni krisis air bersih dan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap kebakaran lahan.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Sulawesi Tengah bersama BMKG dan BPBD memperkuat langkah mitigasi dan koordinasi lintas sektor.

Sekretaris DTPH Sulteng, Agustin M. Tobondo, mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengurangi dampak kemarau terhadap sektor pertanian.

“Kami telah menyiapkan berbagai langkah strategis, mulai dari edukasi kepada petani, penyesuaian kalender tanam, penyediaan varietas benih tahan kekeringan, hingga pompanisasi,” jelasnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur Nomor 17 Tahun 2026 tentang Antisipasi dan Kesiapsiagaan Menghadapi Fenomena Iklim El Niño dan Musim Kemarau Tahun 2026.

Meski dampaknya diprediksi tidak seekstrem wilayah seperti Nusa Tenggara Timur maupun sebagian Pulau Jawa, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait penggunaan air dan potensi kebakaran lahan.

BMKG mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi pemerintah guna mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi selama musim kemarau 2026.(rdk)