BANGGAIPOST, LUWUK – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram yang belakangan dikeluhkan warga di sejumlah wilayah mulai menuai sorotan. Di tengah sulitnya masyarakat memperoleh gas bersubsidi tersebut, muncul dugaan bahwa sebagian pasokan digunakan untuk kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gas elpiji 3 kilogram merupakan komoditas bersubsidi yang diperuntukkan bagi rumah tangga kurang mampu dan pelaku usaha mikro. Namun dalam beberapa hari terakhir, warga mengaku kesulitan mendapatkan gas di pangkalan resmi.
Sejumlah warga menyampaikan bahwa stok di beberapa pangkalan kerap kosong. Kondisi ini memaksa masyarakat berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari gas, bahkan tidak jarang harus pulang tanpa membawa tabung.
“Sudah beberapa kali kami cari, hampir semua pangkalan kosong. Padahal ini kebutuhan harian untuk memasak,” ujar seorang warga.
Di tengah situasi tersebut, beredar informasi di masyarakat bahwa gas bersubsidi kemungkinan digunakan untuk kebutuhan dapur penyedia program MBG. Dugaan ini memicu pertanyaan dari warga, mengingat kegiatan dapur program berskala besar umumnya membutuhkan pasokan energi dalam jumlah cukup signifikan.
Jika benar terjadi penggunaan gas elpiji 3 kilogram untuk operasional dapur program, hal tersebut berpotensi menimbulkan persoalan dalam aspek ketepatan sasaran subsidi. Pasalnya, secara regulasi gas bersubsidi diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tertentu dan bukan untuk kegiatan operasional berskala besar.
Karena itu, sejumlah warga menilai perlu ada penjelasan resmi dari pihak terkait agar informasi yang berkembang tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
“Kalau memang tidak benar, pemerintah perlu menjelaskan. Tapi kalau ada penggunaan gas subsidi untuk kegiatan program, tentu perlu ditinjau kembali agar tidak berdampak pada masyarakat kecil,” kata warga lainnya.
Situasi kelangkaan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan distribusi gas bersubsidi di lapangan. Pengawasan yang ketat dinilai penting agar distribusi tetap tepat sasaran dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab kelangkaan yang terjadi. Klarifikasi yang transparan dinilai penting agar program pemerintah tetap berjalan tanpa menimbulkan dampak sosial baru di tengah masyarakat.
Bagi warga kecil, gas elpiji 3 kilogram bukan sekadar komoditas energi, melainkan kebutuhan dasar rumah tangga. Karena itu, ketersediaan dan distribusinya diharapkan tetap menjadi prioritas agar tidak semakin membebani masyarakat.(Alin)












