Ancaman Eskalasi Perang AS-Iran: Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing kembali memanaskan isu konflik Iran. Trump memberi sinyal siap meningkatkan serangan jika negosiasi dengan Teheran gagal
BANGGAIPOST.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan sikap keras terhadap Iran setelah menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, 14–15 Mei 2026.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas sejumlah isu global, termasuk konflik Iran dan situasi di Selat Hormuz yang hingga kini masih memicu ketegangan internasional.
Dikutip dari Reuters, Trump mengatakan dirinya dan Xi memiliki pandangan yang hampir sama terkait Iran. Keduanya sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan jalur pelayaran Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga stabilitas energi dunia.
“Kami merasa sangat mirip soal Iran. Kami tidak ingin mereka punya senjata nuklir, dan kami ingin selat itu terbuka,” ujar Trump usai pertemuan, seperti dikutip Reuters.
Meski demikian, hasil konkret dari diplomasi kedua negara terhadap Iran dinilai masih terbatas. Trump bahkan kembali melontarkan ancaman bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan operasi militer apabila Teheran gagal mencapai kesepakatan baru.
Menurut laporan The Wall Street Journal dan CNBC, Trump menyebut AS siap melanjutkan serangan dengan “tingkat dan intensitas yang lebih tinggi” jika Iran terus dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Trump juga mengklaim militer AS mampu melumpuhkan infrastruktur strategis Iran dalam waktu singkat.
Konflik Memanas
Ketegangan AS-Iran kembali meningkat sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026. Meski sempat tercapai gencatan senjata rapuh, situasi di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih.
Dikutip dari Al Jazeera, gangguan di jalur pelayaran tersebut menyebabkan distribusi minyak dunia terganggu. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Akibatnya, harga energi dunia mengalami lonjakan dan aktivitas perdagangan internasional ikut terdampak.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Pentagon telah menyiapkan berbagai opsi eskalasi militer apabila jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Sikap China dan Iran
Pemerintah China menegaskan pentingnya de-eskalasi dan menyebut perang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun Beijing juga dinilai berhati-hati dalam menekan Iran karena negara tersebut merupakan salah satu mitra dagang penting China, khususnya di sektor energi.
The New York Times menyebut sejumlah analis memprediksi China kemungkinan akan meminta konsesi tertentu dari AS, termasuk terkait isu Taiwan, jika diminta membantu menekan Iran secara lebih serius.
Di sisi lain, Iran menyatakan tetap membuka peluang negosiasi, namun belum sepenuhnya percaya terhadap komitmen Amerika Serikat. Pemerintah Iran juga menegaskan siap memberikan balasan jika kembali diserang.
Dampak Global
Situasi ini terus memicu kekhawatiran pasar keuangan global. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak bertahan di level tinggi, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu.
Sejumlah laporan internasional menyebut ribuan kapal mengalami hambatan distribusi akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.(*)
Sumber: Reuters, The Wall Street Journal, The New York Times, Al Jazeera, CNBC.












