Iklan Banggai Post
Editorial

“Mami Gemuk” yang Meremukan Hati Rakyat

Di sinilah istilah “Mami Gemuk” menemukan maknanya. “Mami” bukan sekadar sindiran terhadap belanja makan-minum, melainkan simbol dari birokrasi yang berpotensi semakin gemuk oleh berbagai fasilitas dan belanja rutin, sementara rakyat yang menjadi sumber uangnya justru harus terus berhemat. Mami-nya gemuk, birokratnya makin subur, tetapi rakyat justru makin kurus. Ironi inilah yang seharusnya dibaca secara serius oleh para pengambil kebijakan, sebab APBD bukan sekadar kumpulan angka dalam dokumen pemerintah, melainkan uang publik yang seharusnya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan dan pembangunan yang nyata.

Kita bisa membayangkan betapa besar nilai hampir Rp100 miliar tersebut jika diterjemahkan ke dalam kebutuhan masyarakat. Ambil saja contoh pembangunan Jembatan Masungkang yang belakangan menjadi perhatian. Jika benar informasi yang beredar bahwa pembangunan jembatan tersebut nilainya tidak lebih dari sekitar Rp1 miliar dan disebut dibangun menggunakan dana pribadi gubernur, maka perbandingannya terasa begitu menampar. Rp100 miliar secara kasar setara dengan hampir 100 jembatan senilai Rp1 miliar. Tentu perbandingan ini bukan berarti seluruh Rp94,9 miliar dapat begitu saja dialihkan menjadi pembangunan jembatan, karena setiap anggaran memiliki peruntukan, aturan dan mekanisme masing-masing. Namun ilustrasi tersebut sengaja dikemukakan untuk menunjukkan betapa besar nilai uang yang sedang kita bicarakan.

Bagikan: