banner 728x250

Mabangun Tunggul, Pesan Leluhur untuk Jaga Persaudaraan

PESAN PERSAUDARAAN: Masyarakat adat dua Kamali yakni Kamali Putal dan Kamali Boneaka melakukan prosesi upacara adat mabangun tunggul, Ada pesan persaudaraan yang kuat di balik prosesi adat yang sudah dijalankan secara turun temurun ini.(FOTO MOHAMAD IKBAL/BANGGAI POST)



BANGGAI POST, BALUT– Keterlibatan Pemerintah Kabupaten Banggai Laut dalam setiap prosesi adat yang akan dilaksanakan oleh masyarakat Adat Banggai tidak perlu diragukan lagi. Hal ini terlihat kembali hadirnya pemerintah Kabupaten Banggai Laut pada prosesi adat “Mabangun Tunggul” yang dilaksanakan di Kamali Banggai Lalongo, Kamis (17/03).

Adat Mabangun tunggul merupakan proses yang upacara adat yang sudah ratusan tahun dilakukan oleh masyarakat empat masyarakat adat yang ada di Kerajaan Banggai yakni Kamali Basalo Katapean, Kamali Banggai Lalongo, Kamali Boneaka dan Kamali Putal. Dan rutin dilaksanakan setiap 6 Tahun, 6 Bulan dan 6 Hari. Mabangun tunggul merupakan prosesi penyatuan dan kesepakatan, empat kerajaan kecil yang menguasai pulau Banggai pada saat itu, bersatu dalam kerajaan besar yang dikenal dengan Kerajaan Banggai ataupun Kerajaan Benggawi.

Kehadiran pemerintah daerah dalam upacara adat mabangun tunggul merupakan bentuk kepedulian akan kelestarian adat budaya serta menjaga dan melestarikan pesan dari leluhur.
“Banggai Laut memiliki adat-istiadat yang masih sampai hari ini terus terpelihara dan dilestarikan. Dan akan terus eksis karna ini bagian dari kearifan lokal yang berbudaya,” jelas Bupati Sofyan Kaepa dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Wakil Bupati Ablit H.Ilyas.
Lewat sambutannya pula, Bupati Sofyan mengatakan, sebagai daerah yang bersejarah, perlu kita mengetahui dan memahami seluk-beluk sejarah peradaban sejak dari masa kerajaan Banggai sampai terintegritas dalam kedaulatan NKRI. Bahasa budaya dan adat perlu di pelajari karena mempelajari bahasa budaya dan adat akan membuat kita sadar akan pentingnya pelestarian budaya.
“Perlu kita ketahui bahwa mabangun tunggul ini adalah adat mendirikan tiang atau yang disebut dengan mendirikan tiang Alif untuk menandakan akan dilaksanakan suatu kegiatan adat yang intinya adalah menjalin hubungan silaturahmi antara sesama masyarakat adat serta memupuk rasa gotong royong dalam bingkai kearifan lokal yang berbudaya,” terangnya
“oleh karena itu, mabangun tunggul ini jangan kita jadikan ajang seremoni saja. namun di dalamnya banyak makna yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Mabangun tunggul ini kita diajak untuk senantiasa menjaga hubungan antara sesama manusia,” tambah Bupati Sofyan.

Dalam kesempatan itu pula, orang nomor satu di Banggai Laut itu, mengajak, kepada seluruh masyarakat Banggai Laut, agar dapat melestarikan adat Banggai. Sehingga hubungan tali silaturahmi antara masyarakat adat Banggai khususnya dan masyarakat adat di wilayah Kabupaten Banggai Laut pada umumnya dan bersama-sama dengan pemerintah daerah guna mewujudkan serta melestarikan warisan budaya lokal yang selalu kita pertahankan dan kita lestarikan melalui kegiatan adat seperti mabangun tunggul ini.
“Semakin mengetahui sekaligus memahami ragam budaya Banggai, kita dapat mencerminkan jati diri dan selalu menjaga budaya, memperkokoh persaudaraan sesama kita khususnya di Kabupaten Banggai Laut yang sama-sama kita cintai ini,” tuturnya.
“Saya berharap dengan kegiatan mabangun tunggul ini kita dapat meningkatkan kebudayaan di Kabupaten Banggai Laut agar tetap terjaga nilai-nilai kebersamaan nilai-nilai Persaudaraan yang selama ini menjadi ciri masyarakat yang berbudaya,” tandas Bupati Sofyan.

Mabangun tunggul kali ini mengusung tema “Ko Loyosio Noanggita Mongkokongdong Tunggul Montolutusan” dalam artian “Luruskan Hati kita, Tegakkan Tiang Persaudaraan”. (IK)