Opini

Teater Tragedi di Masungkang


Oleh: Supriadi Lawani*


Aristoteles pernah menulis bahwa tragedi adalah kisah tentang manusia yang, melalui rangkaian peristiwa yang menggetarkan, membangkitkan rasa iba dan takut hingga penonton mengalami katarsis. Berabad-abad kemudian, teater tragedi itu ternyata tidak hanya hidup di panggung-panggung Yunani. Ia dipentaskan setiap pagi di sebuah sudut negeri yang jauh dari gemerlap kekuasaan: di tepian Sungai Masungkang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai.

Panggungnya bukan marmer. Atapnya bukan langit-langit teater. Musik pengiringnya bukan denting orkestra, melainkan gemuruh arus sungai yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman. Tirainya terbuka setiap matahari terbit, malu-malu di balik awan gelap. Para pemeran utamanya adalah anak-anak berseragam merah putih dan biru putih yang bahkan mungkin belum memahami arti kata tragedi. Mereka hanya tahu satu hal: jika ingin belajar, mereka harus menyeberangi sungai.

Mereka saling menggenggam tangan. Bukan karena sedang bermain. Bukan pula karena sedang merayakan persahabatan. Mereka berpegangan agar tidak hanyut, agar tubuh kecil mereka tidak diseret arus, agar cita-cita mereka tidak tenggelam sebelum sempat tumbuh.

Betapa memilukannya sebuah negeri ketika tangan anak-anak harus menggantikan fungsi jembatan yang tak pernah dibangun.

Bagikan: