Opini

Teater Tragedi di Masungkang

Mungkin kelak akan datang hari ketika jembatan akhirnya dibangun. Para pejabat akan berdiri di atasnya mengenakan helm proyek. Pita akan dipotong. Kamera akan mengabadikan senyum kemenangan.

Pidato-pidato akan mengulang kalimat yang sama: pembangunan telah hadir hingga pelosok desa. Namun sejarah memiliki ingatan yang tidak mudah dihapus oleh seremoni. Ia akan mencatat bahwa sebelum jembatan itu berdiri, pernah ada anak-anak yang setiap pagi memainkan teater tragedi di atas arus Sungai Masungkang, sementara negara memilih menjadi penonton.

Aristoteles percaya bahwa tragedi yang agung akan melahirkan katarsis, pemurnian hati bagi mereka yang menyaksikannya. Pertanyaannya, apakah para pejabat kita masih memiliki hati yang dapat dimurnikan? Ataukah hati mereka telah terlalu membatu melihat anak-anak mempertaruhkan nyawa sehingga penderitaan itu berubah menjadi sekadar video yang melintas di layar telepon mahal, lalu hilang bersama guliran jempol?

Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak pernah ditentukan oleh megahnya bangunan yang diresmikan, melainkan oleh hal yang jauh lebih sederhana: apakah seorang anak dapat pergi ke sekolah tanpa harus lebih dahulu berunding dengan maut.

Bagikan: