Dalam teater Yunani, penonton menangis karena menyaksikan tokoh utama dikalahkan oleh takdir. Di Masungkang, yang mengalahkan anak-anak itu bukanlah takdir. Sungai hanya mengalir sebagaimana mestinya. Hujan hanya menjalankan hukum alam. Yang menciptakan tragedi adalah pilihan-pilihan manusia. Ketika negara memiliki kemampuan membangun, tetapi gagal menentukan apa yang paling mendesak, tragedi lahir bukan dari alam, melainkan dari kebijakan.
Di sinilah ironi itu mencapai puncaknya.
Di saat anak-anak mempertaruhkan nyawa demi memperoleh hak atas pendidikan, anggaran negara justru mampu menemukan jalannya menuju proyek-proyek yang lebih megah. Kolam renang bernilai miliaran rupiah dapat berdiri dengan indah. Keramik dipoles hingga berkilau. Air dibuat tenang agar nyaman dinikmati. Sementara puluhan kilometer dari sana, anak-anak masih harus bergulat dengan air sungai yang keruh dan deras hanya untuk sampai ke ruang kelas.
Dua jenis air hidup berdampingan dalam satu pemerintahan. Yang satu dijaga agar tetap jernih demi rekreasi. Yang lain dibiarkan menjadi arena pertaruhan hidup bagi anak-anak. Sulit menemukan satir yang lebih pahit daripada kenyataan semacam itu.
