King Maker, Penjembatan atau Arsitek Koalisi?


Longki di Tengah Konfigurasi Besar Politik Sulteng 2030


BANGGAIPOST.COM, PALU – Mundurnya Hadianto Rasyid dari Partai Hanura ternyata tidak hanya memunculkan spekulasi mengenai masa depan politik Wali Kota Palu tersebut. Peristiwa itu juga membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai arah politik Sulawesi Tengah menuju Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2030.

Jika sebelumnya publik ramai membahas kemungkinan Hadianto bergabung dengan Gerindra atau peluang duet Anwar Hafid-Hadianto Rasyid, kini perhatian mulai mengarah kepada satu figur yang dinilai memiliki posisi strategis dalam seluruh konfigurasi tersebut: Longki Djanggola.

Mantan Gubernur Sulawesi Tengah dua periode itu dinilai berpotensi menjadi tokoh kunci yang menentukan arah pergerakan politik menjelang 2030. Bahkan dalam berbagai diskusi politik, Longki mulai disebut bukan sekadar sebagai king maker, tetapi juga berpotensi menjadi arsitek koalisi yang dapat menyatukan sejumlah figur besar dalam satu poros politik. Spekulasi mengenai peran Longki bermula dari isu kepindahan Hadianto Rasyid ke Partai Gerindra.

Sejak mengundurkan diri dari Hanura setelah hampir 18 tahun berkiprah, Hadianto belum menyampaikan secara terbuka ke mana arah politiknya akan berlabuh. Namun berbagai kalangan menilai Gerindra menjadi salah satu tujuan yang paling mungkin. Selain faktor kedekatan politik, terdapat hubungan keluarga yang selama ini diketahui publik. Longki Djanggola merupakan paman dari Hadianto Rasyid.

Meski demikian, Longki sendiri merespons santai isu tersebut. “Saya belum tahu,” ujar Longki saat dimintai tanggapan oleh sejumlah media terkait kemungkinan Hadianto bergabung dengan Gerindra. Pernyataan itu memang belum memberikan kepastian apa pun. Namun justru karena belum ada konfirmasi resmi, ruang spekulasi politik semakin terbuka. Banyak pihak menilai apabila Hadianto benar-benar masuk Gerindra, maka Longki otomatis menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam menentukan arah karier politik keponakannya itu.

Dari Hadianto Menuju Pilgub 2030

Dalam beberapa bulan terakhir, nama Hadianto semakin sering disebut sebagai salah satu figur potensial pada Pilgub Sulawesi Tengah 2030. Statusnya sebagai Wali Kota Palu dua periode, tingkat popularitas yang relatif tinggi, serta kemenangan dominan pada Pilkada sebelumnya membuat namanya sulit diabaikan.

Di sisi lain, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid juga diperkirakan masih menjadi figur utama menjelang kontestasi mendatang. Posisi sebagai petahana memberikan modal politik yang kuat, terutama apabila kinerja pemerintahan mampu dipertahankan hingga akhir masa jabatan. Dari sinilah lahir berbagai spekulasi mengenai kemungkinan duet Anwar Hafid-Hadianto Rasyid. Bahkan sebagian kalangan mulai menyebut pasangan tersebut sebagai “dream team” karena dianggap mampu menggabungkan kekuatan politik dari dua wilayah berbeda.

Anwar Hafid dikenal memiliki basis kuat di wilayah timur Sulawesi Tengah, sementara Hadianto memiliki pengaruh besar di Kota Palu dan kawasan barat. Kombinasi itu dinilai dapat menciptakan keseimbangan geopolitik yang selama ini sering menjadi faktor penting dalam kontestasi politik daerah.

Longki Sebagai Titik Temu

Jika seluruh skenario tersebut ditarik ke satu titik, maka nama Longki kembali muncul sebagai figur sentral. Sebagai Ketua DPD Gerindra Sulawesi Tengah sekaligus tokoh senior yang memiliki hubungan baik dengan berbagai elite politik daerah, Longki dinilai berada pada posisi yang unik. Ia memiliki kedekatan dengan Hadianto.

Ia juga memiliki pengalaman panjang berinteraksi dengan berbagai tokoh politik lintas partai, termasuk figur-figur yang kini berada dalam lingkar kekuasaan provinsi. Karena itu, sejumlah pengamat melihat Longki memiliki kapasitas untuk menjadi jembatan komunikasi politik apabila suatu saat terbentuk poros besar antara Gerindra dan kekuatan politik lainnya. Dalam konteks ini, Longki tidak lagi hanya dipandang sebagai tokoh partai, melainkan sebagai figur yang berpotensi mempertemukan kepentingan berbagai kelompok politik yang berbeda.

Di tengah berkembangnya skenario Anwar-Hadianto, muncul pula diskusi mengenai posisi Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido. Sejumlah warganet bahkan mulai membangun narasi politik yang mereka sebut sebagai “tukar guling” menuju 2030.

Dalam skenario tersebut, Anwar Hafid tetap maju sebagai calon gubernur, Hadianto Rasyid menjadi pasangan wakil gubernur, sementara Reny Lamadjido disebut berpotensi bertarung pada level pemerintahan yang berbeda, termasuk kemungkinan maju sebagai calon Wali Kota Palu.

Memang belum ada dasar politik resmi yang mengarah ke sana. Namun kemunculan skenario tersebut menunjukkan bahwa publik mulai melihat kemungkinan konfigurasi yang lebih besar daripada sekadar persaingan antarfigur. Dalam berbagai simulasi yang berkembang, posisi Longki kembali dianggap penting karena berpotensi menjadi penghubung yang mampu menjaga keseimbangan kepentingan politik antaraktor utama.

King Maker atau Arsitek Politik?

Istilah king maker biasanya digunakan untuk menggambarkan tokoh yang menentukan siapa kandidat yang akan maju atau memperoleh dukungan. Namun dalam konteks Sulawesi Tengah menjelang 2030, sebagian pengamat menilai peran Longki berpotensi lebih besar daripada itu.

Ia tidak hanya dapat memengaruhi pilihan kandidat, tetapi juga memiliki peluang untuk ikut membentuk desain koalisi yang akan bertarung. Jika suatu saat terbentuk poros besar yang melibatkan Gerindra, kekuatan petahana, dan figur-figur populer lainnya, maka Longki hampir pasti akan menjadi salah satu tokoh yang berada di balik proses tersebut.

Pengaruh politik yang dibangunnya selama puluhan tahun membuat namanya tetap relevan meski tidak lagi berada di kursi gubernur. Meski demikian, seluruh skenario yang berkembang saat ini masih berada pada tahap spekulasi politik.

Pilgub Sulawesi Tengah 2030 masih beberapa tahun lagi. Banyak variabel dapat berubah, mulai dari hasil Pemilu 2029, kebijakan partai politik di tingkat pusat, tingkat elektabilitas para tokoh, hingga kemunculan figur baru yang belum diperhitungkan saat ini. Belum ada deklarasi politik resmi. Belum ada kesepakatan koalisi. Belum ada keputusan mengenai arah politik Hadianto pasca-Hanura.

Namun satu hal yang mulai terlihat, mundurnya Hadianto dari Hanura telah memicu diskusi yang jauh lebih besar daripada sekadar perpindahan partai.

Perhatian publik kini mulai bergeser kepada siapa yang akan menjadi pengatur arah permainan menuju 2030. Jika Anwar Hafid adalah petahana yang ingin menjaga pengaruhnya, Hadianto Rasyid adalah figur yang sedang naik menuju panggung yang lebih besar, dan Reny Lamadjido merupakan tokoh yang masih memiliki banyak pilihan politik, maka Longki Djanggola berada pada posisi yang berbeda.

Ia mungkin tidak akan menjadi nama yang bertarung langsung di surat suara Pilgub 2030. Namun dalam berbagai skenario yang berkembang hari ini, Longki justru muncul sebagai figur yang berpotensi menentukan bagaimana panggung itu disusun sejak jauh hari. (RBP)

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk