— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk

Spekulasi “Tukar Guling” Mengemuka, Renny ke Palu?

BANGGAIPOST.COM, PALU – Dinamika politik Sulawesi Tengah menuju Pilgub 2030 mulai memunculkan berbagai spekulasi menarik di ruang publik. Salah satu yang ramai diperbincangkan warganet adalah kemungkinan terbentuknya duet Anwar Hafid–Hadianto Rasyid sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah.

Tak hanya itu, muncul pula skenario yang oleh sebagian netizen disebut sebagai “tukar guling” politik. Dalam skenario tersebut, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido disebut berpotensi meninggalkan kursi wakil gubernur untuk maju sebagai calon Wali Kota Palu pada kontestasi berikutnya.

Meski belum memiliki dasar politik resmi dan masih sebatas percakapan publik, wacana tersebut mendapat respons cukup luas di media sosial.

Salah satu komentar yang menarik perhatian datang dari akun Arif Onjo A yang menulis:

“Pas… so pasti menang. Ibu Reny jadi calon wali kota…”

Komentar tersebut kemudian memicu diskusi lanjutan mengenai peta politik Sulawesi Tengah pasca-2030, termasuk peluang figur-figur yang saat ini masih menjabat untuk bertarung pada level berbeda.

Duet yang Dinilai Saling Melengkapi

Di mata sebagian warganet, duet Anwar Hafid dan Hadianto Rasyid dianggap memiliki daya tarik elektoral yang kuat. Anwar saat ini menjabat Gubernur Sulawesi Tengah, sementara Hadianto merupakan Wali Kota Palu dua periode yang memiliki basis dukungan signifikan di ibu kota provinsi.

Kombinasi keduanya dinilai dapat menghadirkan keseimbangan geografis maupun politik antara wilayah timur dan barat Sulawesi Tengah.

Tak sedikit pula yang menyebut pasangan tersebut sebagai “dream team” karena sama-sama memiliki pengalaman pemerintahan dan jaringan politik yang luas.

Dalam skenario yang berkembang di media sosial, Reny Lamadjido disebut bisa menjadi figur kuat apabila memilih kembali bertarung di Palu. Latar belakangnya sebagai dokter serta posisinya sebagai wakil gubernur perempuan pertama di Sulawesi Tengah dianggap menjadi modal politik yang tidak kecil.

Win-Win Solution atau Sekadar Angan Politik?

Para pendukung skenario tersebut menilai konfigurasi itu dapat menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak.

Anwar Hafid tetap memimpin dengan dukungan figur populer di ibu kota provinsi. Hadianto memperoleh panggung politik yang lebih luas di tingkat provinsi. Sementara Reny Lamadjido mendapat kesempatan kembali bertarung di daerah yang selama ini menjadi basis aktivitas dan pengabdiannya.

Selain itu, rotasi kepemimpinan semacam ini dianggap dapat meminimalkan gesekan antarfigur politik dan membuka ruang regenerasi yang lebih teratur.

Namun, tidak semua pihak melihatnya sesederhana itu.

Sejumlah pengamat media sosial mengingatkan bahwa hubungan politik antarfigur tidak selalu berjalan linear. Publik masih mengingat adanya perbedaan sikap yang sempat mencuat ke ruang publik antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu pada 2025 lalu.

Meski tidak berkembang menjadi konflik terbuka, peristiwa tersebut kerap dijadikan alasan oleh sebagian warganet untuk mempertanyakan apakah duet Anwar-Hadianto benar-benar realistis diwujudkan.

Masih Jauh dari Kepastian

Terlepas dari ramainya perbincangan, realitas politik menunjukkan bahwa seluruh skenario tersebut masih sangat dini untuk disimpulkan.

Pilgub Sulawesi Tengah 2030 masih beberapa tahun lagi dan banyak variabel dapat berubah, mulai dari dinamika partai politik, tingkat elektabilitas figur, hingga kinerja para pejabat yang saat ini masih aktif menjabat.

Di sisi lain, Reny Lamadjido juga baru menjalani periode pertama sebagai wakil gubernur. Secara politik, keputusan meninggalkan jabatan untuk maju pada level pemerintahan yang berbeda tentu memiliki konsekuensi tersendiri.

Karena itu, wacana “tukar guling” Anwar-Hadianto-Reny untuk saat ini lebih tepat dibaca sebagai cerminan harapan dan imajinasi politik sebagian masyarakat dibandingkan sebagai agenda politik yang sudah mengarah pada keputusan resmi.

Yang jelas, semakin sering nama-nama tersebut diperbincangkan publik, semakin menarik pula peta politik Sulawesi Tengah menuju 2030 untuk terus dicermati.

Apakah duet Anwar-Hadianto benar-benar akan terwujud? Apakah Reny Lamadjido akan kembali bertarung di Palu? Ataukah akan muncul poros baru yang sama sekali berbeda? Politik Sulawesi Tengah masih menyimpan banyak kemungkinan.(Sri)

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk
— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk
— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk
— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk
'; ?>