— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk

Belasan Buaya Muncul di Sungai Palu, Video Viral Kembali Ingatkan Ancaman Konflik Satwa dan Manusia

BANGGAIPOST.COM, PALU – Sebuah video Facebook Reel yang memperlihatkan sejumlah buaya berjemur di tepian sungai berlumpur kembali menyita perhatian publik. Video yang diunggah akun Facebook Sandi Ramadan pada 12 Juni 2026 itu memperlihatkan beberapa ekor buaya muara muncul secara bersamaan di aliran sungai yang diduga berada di kawasan Sungai Palu, Sulawesi Tengah.

Meski tanpa narasi maupun keterangan lokasi yang rinci, visual dalam video tersebut memperlihatkan sedikitnya belasan buaya berada di habitat alaminya. Kemunculan satwa predator itu memicu beragam komentar warganet, mulai dari rasa takjub hingga kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai.

Fenomena tersebut sejatinya bukan hal baru bagi warga Kota Palu.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa Sungai Palu memang merupakan salah satu habitat buaya muara (Crocodylus porosus) di wilayah tersebut.

Berdasarkan penelitian BKSDA Sulawesi Tengah pada 2019, populasi buaya muara di Sungai Palu diperkirakan mencapai sekitar 36 ekor dewasa. Jumlah itu diyakini dapat terus bertambah seiring keberhasilan reproduksi dan masih tersedianya habitat pendukung.

Dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan buaya di kawasan Sungai Palu hingga Teluk Palu semakin sering dilaporkan masyarakat. Bahkan pada Juni 2026, sejumlah unggahan media sosial memperlihatkan belasan buaya terlihat berjemur di kawasan muara Sungai Palu.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait potensi konflik antara manusia dan satwa liar.

BKSDA Sulawesi Tengah sebelumnya mencatat sedikitnya dua kasus konflik buaya dengan manusia di wilayah Sungai Palu hingga Teluk Palu. Dalam salah satu insiden, korban dilaporkan meninggal dunia akibat serangan buaya.

Aktivitas masyarakat yang memanfaatkan bantaran sungai untuk memancing, mencuci, hingga mencari pasir menjadi faktor yang meningkatkan risiko perjumpaan dengan predator tersebut.

Di sisi lain, para pemerhati lingkungan menilai kerusakan ekosistem pesisir dan sungai juga dapat memengaruhi pola pergerakan buaya. Berkurangnya kawasan mangrove, perubahan bentang alam, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar habitat alami satwa diduga menjadi pemicu meningkatnya interaksi buaya dengan manusia.

Sebagai langkah mitigasi, BKSDA Sulawesi Tengah telah melakukan berbagai upaya pencegahan.

Lembaga tersebut pernah menggelar sosialisasi kepada masyarakat di kawasan Pantai Talise pada Desember 2020 untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan buaya. Papan peringatan tentang habitat buaya juga dipasang di sejumlah titik pesisir Sungai Palu dan Teluk Palu.

Selain itu, BKSDA juga mengadakan rapat koordinasi penanganan satwa liar di Teluk Palu pada April 2025 guna menyusun strategi bersama dalam mengurangi risiko konflik.

Pemantauan populasi buaya pun terus dilakukan, termasuk melalui penelitian lapangan dan penggunaan kamera pengawas pada beberapa lokasi yang dianggap sebagai titik aktivitas buaya.

Video viral yang beredar di media sosial kali ini menjadi pengingat bahwa Sungai Palu bukan sekadar ruang aktivitas masyarakat, tetapi juga habitat alami satwa liar yang dilindungi.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai maupun pesisir Teluk Palu, menghindari berenang atau memancing di lokasi yang telah dipasangi tanda peringatan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan buaya yang memasuki area permukiman.

Keberadaan buaya di Sungai Palu pada akhirnya bukan hanya soal viral di media sosial, melainkan tantangan bersama untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar yang telah lama menghuni wilayah tersebut.(Alin/RBP)