Keberhasilan Juan Wijaya bukan lahir dari kemewahan fasilitas atau sistem pembinaan yang mapan. Prestasi tersebut justru muncul dari kerja keras, disiplin, dan perjuangan mandiri
BANGGAIPOST, LUWUK – Keberhasilan Juan Wijaya menembus Talent Detection Nasional Futsal U-17 tak sekadar menjadi kabar membanggakan bagi masyarakat Banggai Bersaudara. Lebih dari itu, capaian tersebut menjadi cermin besar bagi tata kelola pembangunan sumber daya manusia (SDM) di wilayah kepulauan, khususnya Kabupaten Banggai Laut dan Banggai Kepulauan.
Di tengah berbagai keterbatasan fasilitas dan minimnya sistem pembinaan, anak muda dari daerah tetap mampu menembus panggung nasional. Fakta ini dinilai sebagai bukti bahwa talenta besar bisa lahir dari mana saja, termasuk dari wilayah yang selama ini kerap dipandang “pinggiran”.
Sorotan itu disampaikan Analis Kebijakan sekaligus putra asli Banggai yang kini berkarier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian PAN-RB, Nadjamuddin Mointang.
Menurut Nadjamuddin, keberhasilan Juan Wijaya bukan lahir dari kemewahan fasilitas atau sistem pembinaan yang mapan. Prestasi tersebut justru muncul dari kerja keras, disiplin, dan perjuangan mandiri.
“Di sinilah letak ironisnya. Banyak anak-anak berbakat di daerah kita harus berjuang sendiri mengejar mimpi mereka tanpa dukungan sistem yang benar-benar hadir,” ujarnya kepada Banggai Post.
Ia menilai paradigma pembangunan daerah harus mulai bergeser. Pemerintah daerah, kata dia, tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga harus serius membangun manusia-manusia unggul sebagai investasi masa depan.
“Pemda jangan hanya sibuk membangun jalan dan gedung. Membangun SDM unggul yang nantinya membawa nama daerah di tingkat nasional bahkan internasional itu jauh lebih penting,” tegasnya.
Menurut Nadjamuddin, momentum keberhasilan Juan Wijaya harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera menata ulang arah kebijakan pembangunan talenta muda. Pengembangan potensi generasi muda tidak boleh berhenti di sektor olahraga saja, tetapi juga harus menyentuh bidang seni budaya, teknologi, sains, kepemimpinan muda, pendidikan, hingga ekonomi kreatif dan inovasi digital.
Ia juga menyoroti masih adanya anggapan bahwa pembinaan bakat anak muda hanyalah program pelengkap dalam penganggaran daerah. Akibatnya, banyak potensi besar di Banggai Laut maupun Banggai Kepulauan akhirnya tenggelam karena terbatasnya akses, fasilitas, dan dukungan pembinaan.
Padahal, jika dikelola serius, pengembangan talenta muda memiliki dampak besar bagi daerah.
“Prestasi anak muda bisa mengangkat nama daerah, memunculkan kebanggaan kolektif, memperkuat identitas daerah, bahkan menciptakan efek ekonomi melalui sport tourism dan industri kreatif,” paparnya.
Untuk membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan, Nadjamuddin mendorong pemerintah daerah mulai melakukan pemetaan bakat sejak usia sekolah, menghadirkan kompetisi rutin, menyediakan pusat latihan dan ruang kreativitas, hingga memastikan adanya beasiswa serta dukungan anggaran pembinaan.
Selain itu, ia menilai kolaborasi dengan komunitas, akademi, dan sektor swasta melalui program CSR juga perlu diperkuat, termasuk mengoptimalkan peran sekolah dan organisasi kepemudaan.
Di akhir keterangannya, Nadjamuddin turut mengkritik kebiasaan sejumlah pemangku kebijakan yang baru hadir memberi apresiasi ketika seorang anak daerah sudah viral atau sukses di tingkat nasional.
“Pemerintah harus hadir sejak awal proses, sejak mereka masih berkeringat di lapangan tanah, bukan hanya saat mereka sudah memegang piala,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan Juan Wijaya membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang lahirnya prestasi. Yang menjadi pertanyaan besar hari ini adalah sejauh mana keberpihakan pemerintah daerah dalam membangun generasi mudanya sendiri.
“Sebab daerah yang besar bukan hanya daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi daerah yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul dari tanahnya sendiri,” pungkasnya.(rdk/alin)












