Dalam proses tersebut, pimpinan memegang peran penting. Keteladanan diperlukan untuk membentuk budaya kerja berintegritas, tetapi komitmen personal tidak cukup tanpa dukungan sistem yang jelas. Prosedur, pengawasan berjenjang, evaluasi berkala, dan tindak lanjut atas temuan harus menjadi bagian dari mekanisme organisasi.
Pengalaman pembangunan WBK di tingkat batalyon dan brigade dapat menjadi modal bagi Brigjen Mohammad Benriyadin untuk mendorong perubahan kelembagaan di Korem 051/Wijayakarta. Namun, tantangan pada tingkat Korem lebih kompleks karena melibatkan koordinasi lintas Kodim, pengendalian organisasi, dan penyesuaian program dengan karakteristik wilayah.
Karena itu, pengalaman pada penugasan sebelumnya perlu diterjemahkan menjadi tata kelola yang tidak bergantung semata-mata pada figur komandan. Keberhasilan organisasi harus tercermin dalam cara anggaran dikelola, administrasi dijalankan, pengawasan dilaksanakan, dan hasil kerja dipertanggungjawabkan.

Tiga Penugasan, Tiga Tantangan Tata Kelola
Pengalaman pada tiga jenjang penugasan memperlihatkan perbedaan tantangan dalam membangun organisasi berintegritas.
Pertama, tingkat batalyon. Sebagai Danyon 32 Grup 3 Kopassus, penguatan integritas bertumpu pada disiplin, keteladanan, dan kepatuhan terhadap prosedur. Pada tingkat ini, perilaku pimpinan sehari-hari berperan dalam membentuk budaya kerja personel, termasuk dalam pelaksanaan tugas dan pengelolaan sumber daya.
