Berita Utama

The Guardian of Tompotika: Jangan Biarkan Nenek Igo Berjuang Sendiri

Kejelasan itu penting agar upaya perlindungan tidak berhenti pada dokumen administratif. Pelaksanaan di lapangan, kepastian hak kelola, dan pengawasan terhadap kawasan harus menjadi bagian dari agenda berikutnya.

Bagi masyarakat Bualemo, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang memperoleh izin atau mengelola kawasan, melainkan juga bagaimana keberlanjutan sumber air, lahan pangan, hasil hutan, dan keselamatan warga dapat dijamin.

Jangan Biarkan Nenek Igo Berjuang Sendiri

Di media sosial dan ruang publik, dukungan terhadap Nenek Igo dan perlindungan Gunung Tompotika terus mengemuka. Sejumlah warga menempatkan kawasan tersebut sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Loinang yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Sikap itu tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap seluruh bentuk pembangunan. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana pembangunan direncanakan, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung risiko, dan apakah hak serta keselamatan masyarakat benar-benar diperhitungkan.

Dalam dokumenter kanal YouTube Banggai Basudara, Nenek Igo pernah menyatakan komitmennya menjaga hutan leluhur.

“Aku monjaga’i lipu. Hutan leluhur, jangan dirusak.”

Pernyataan itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang lebih luas ketika dihadapkan pada persoalan tata kelola hutan dan ekspansi pertambangan.

Bagikan: