Berita Utama

The Guardian of Tompotika: Jangan Biarkan Nenek Igo Berjuang Sendiri

Maher Doru, seorang warga, masih mengingat pertemuannya dengan Nenek Igo pada Juni 1990. Saat itu, ia bersama sejumlah temannya sedang mencari ikan belut di sungai yang menghubungkan Kecamatan Masama dan Bualemo, tepatnya di kawasan antara Desa Simpangan Bali Dua dan Desa Binsil.

Di tengah aktivitas tersebut, tiba-tiba muncul dua bersaudara, Om Atu dan Tanta Igo, yang kemudian dikenal sebagai Nenek Igo. Keduanya datang bersama banyak anjing.

Terkejut dan ketakutan, Maher memilih menyelamatkan diri dengan memanjat pohon. Sementara itu, kedua bersaudara tersebut berbicara dalam bahasa Saluan dan meminta mereka turun karena tidak akan diganggu.

Namun, ada pesan yang terus diingat Maher hingga kini.

Mereka mengingatkan agar siapa pun yang memasuki kawasan hutan itu tidak berteriak-teriak. Menurut pesan yang disampaikan saat itu, teriakan dapat menyebabkan sungai banjir.

Bagi Maher, pertemuan tersebut meninggalkan kesan mendalam sekaligus menyimpan cerita yang sulit dilupakan tentang kehidupan dan kepercayaan masyarakat di sekitar hutan Tompotika.

Kisah itu merupakan ingatan personal seorang warga. Terlepas dari unsur misteri yang menyertainya, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana hutan Tompotika hidup dalam ingatan kolektif masyarakat melalui cerita, pengalaman, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagikan: