Kekhawatiran terhadap masa depan Tompotika juga menyentuh aspek keanekaragaman hayati.
Kawasan Sampaka dan lokasi bertelur di Desa Taima disebut memiliki keterkaitan dengan habitat burung Maleo, satwa endemik Sulawesi yang membutuhkan kondisi habitat tertentu untuk mempertahankan populasinya.
Perubahan tutupan lahan, gangguan habitat, dan aktivitas manusia di sekitar lokasi penting bagi satwa tersebut perlu menjadi perhatian dalam penilaian dampak lingkungan.
Di sisi lain, Gunung Tompotika memiliki potensi wisata alam yang dapat dikembangkan melalui pendekatan berkelanjutan. Jalur pendakian melalui Tanah Merah, air terjun, dan kawasan kawah merupakan sejumlah potensi yang disebut dalam pemaparan mengenai kawasan tersebut.
Potensi ini membuka pilihan pembangunan yang tidak semata-mata bertumpu pada ekstraksi sumber daya mineral. Pengembangan wisata berbasis masyarakat, jika direncanakan secara tepat dan tetap menjaga daya dukung lingkungan, dapat menjadi salah satu alternatif penguatan ekonomi lokal.
Namun, pilihan tersebut membutuhkan perencanaan, perlindungan kawasan, dan keterlibatan masyarakat agar manfaatnya tidak berhenti pada promosi destinasi, tetapi benar-benar dirasakan oleh warga.
Dalam diskusi di Festival Sastra Banggai, Munawir juga mengingat peristiwa banjir bandang yang terjadi di Desa Sampaka pada 2017. Peristiwa tersebut disebut menghanyutkan sembilan rumah, meskipun kondisi hutan saat itu dinilai masih relatif baik.
