Revolusioner itu gugur di tangan bangsanya sendiri. Seperti banyak idealis lainnya, ia tidak mati oleh musuh, tapi oleh ketakutan sesama anak negeri.
Persahabatan dan permusuhan ternyata hanya dipisahkan garis tipis—terutama ketika politik kekuasaan sedang merajalela.
Adakah yang menangis saat sahabatnya mati, meski dia tahu akhir tragis itu?
Pertanyaan itu mengingatkan pada Fidel Castro dan Che Guevara—dua sahabat revolusi yang dipisahkan oleh jalan dan nasib. Kebetulan atau pengkhianatan? Dunia politik jarang memberi ruang bagi kesetiaan murni; ambisi dan ketamakan selalu menemukan cara untuk mengkhianati idealisme.
Perbedaan idealisme memisahkan kau dan aku.
Akankah cintamu memilih diriku, idealismemu, atau kepentingan dan ambisi?
Apakah persahabatan dan cinta berarti lebih dari pertarungan politik dan kekuasaan?
Atau urusan perutmu yang lapar lebih dipilih dari kesetiaan?
“Mengapa kau korbankan dirimu demi menyelamatkanku?” ucap Mata Hari pada kekasih gelapnya.
Apakah karena cinta, atau persahabatan yang tulus?
Pengorbanan kekasih pada yang dicintai.
Ketika hati berbicara, sahabat sejati adalah kekasih tercinta.
Bogor, 5 September 2025
