Berita Utama

Perempuan Indah Secara Fiksi, Berbahaya Secara Fakta

Ironinya, di masa Jepang pun tubuh perempuan dipertukarkan. Dalam autobiografi yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengakui bahwa ia ikut memfasilitasi pengalihan “budak seks” tentara Jepang. Lalu pada masa agresi militer, perempuan pelacur diminta menjadi mata-mata demi perjuangan kemerdekaan. Di mana batas antara pengorbanan dan eksploitasi?

Perempuan dalam sejarah Indonesia tidak pernah diberi ruang sebagai subjek. Mereka dijadikan lambang, hiasan, atau korban. Dihormati sebagai ibu bangsa di atas panggung, tapi dibungkam dengan pengendalian melalui Ibuisme Negara.
Ketakutan terhadap perempuan sering kali bersumber dari ketidakmampuan laki-laki mengendalikan nafsu dan egonya sendiri. Tubuh perempuan dijadikan simbol dosa agar patriarki bisa terus merasa suci.

Saya percaya, kesetiaan seorang laki-laki terhadap satu perempuan mencerminkan kesetiaannya terhadap rakyatnya. Bung Hatta, Sutan Syahrir, H. Agus Salim, Mohammad Natsir, dan Gus Dur membuktikan bahwa integritas pribadi berjalan seiring dengan moral publik. Menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus disertai penaklukan atas tubuh perempuan.

Persahabatan, Idealisme, dan Luka yang Sama

Suara Tan Malaka pernah menggetarkan hati bangsa ini:

> “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

Bagikan: