Sebuah Refleksi tentang Tubuh, Kekuasaan, dan Kemanusiaan
Oleh Novita Sari Yahya
Saya menulis puisi tentang cinta dan pengkhianatan untuk lomba yang diikuti peserta dari Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Judulnya sederhana, tapi isinya tidak tertib pada kesopanan kata-kata. Puisi-puisi saya sebelumnya seperti Anjing-Anjing Imperialisme dan Melacurkan Diri pada Kekuasaan sudah cukup membuat juri berpikir dua kali untuk meliriknya. Maka, jika kali ini bisa masuk 200 besar saja, itu sudah prestasi besar, setidaknya masih ada ruang kecil untuk suara yang tidak patuh.
Kali ini saya menulis tentang Mata Hari, perempuan yang menjadi simbol bagaimana kecantikan sering disalahartikan sebagai ancaman. Rocky Gerung pernah mengatakan, โPerempuan indah secara fiksi, tapi berbahaya secara fakta.โ Mungkin ia benar. Tapi bahayanya bukan karena perempuan itu sendiri, melainkan karena dunia yang tidak pernah bisa menerima perempuan yang berpikir dan bertindak di luar naskah yang sudah ditentukan untuknya.
