Gagal panen akibat serangan hama tikus tidak hanya memusnahkan tanaman padi di Luwuk Timur, tetapi juga menghancurkan harapan para petani. Di balik sawah-sawah yang rusak, mereka kini harus berjuang menghadapi beban utang, tingginya biaya produksi, dan ketidakpastian untuk memulai musim tanam berikutnya.
Laporan: Parlin Yusuf, BanggaiPost.com
Hamparan sawah di Kecamatan Luwuk Timur biasanya menghadirkan harapan setiap kali musim panen tiba. Bulir-bulir padi yang menguning menjadi penanda bahwa kerja keras selama berbulan-bulan akhirnya akan berbuah hasil.
Namun, musim ini harapan itu sirna.
Di sejumlah petak sawah di Desa Baya dan Desa Uwedikan, yang tersisa hanyalah batang-batang padi rusak akibat serangan hama tikus. Bagi para petani, kegagalan panen bukan sekadar kehilangan hasil. Lebih dari itu, mereka kini harus memikul beban utang yang terus menghantui.
Sebagian besar modal mengolah sawah berasal dari pinjaman. Ketika panen gagal, tidak ada gabah yang bisa dijual untuk mengembalikan modal. Yang tersisa hanyalah tagihan yang harus dibayar.
Sunardi, yang akrab disapa Bambang, merasakan betul beratnya keadaan itu. Petani asal MPP, Desa Baya, tersebut mengelola lima hektare sawah. Seluruh lahannya gagal panen.
