Berita Utama

Meme Sebagai Cermin Post-Kolonialisme

Rosihan juga mengutip pengamatan seorang rohaniwan Belanda yang telah 30 tahun tinggal di Indonesia — sebagaimana tertulis dalam buku Wischer Hulst, Becakrijders, Hoeren, Generaals en andere Politici (1980) — yang menilai bahwa bangsa Indonesia adalah “bangsa politisi,” karena mereka dilahirkan dengan naluri politik dan mati dengan cara itu pula.

Pertanyaannya: apakah mentalitas kolonial ini masih relevan setelah lebih dari delapan dekade kemerdekaan? Fenomena ini dapat dijelaskan melalui istilah amnesia post-kolonial, yaitu kondisi ketika mentalitas lama yang seharusnya terkikis justru masih melekat dalam perilaku sosial dan politik bangsa.

Salah satu contohnya terlihat dari respon masyarakat terhadap meme pejabat. Banyak meme bersifat satire, bahkan kasar, tetapi tidak selalu menimbulkan perubahan perilaku. Sementara keluarga pejabat mungkin merasa malu, sistem sosial dan mental kolonial—seperti hipokrisi, penghindaran tanggung jawab, dan materialisme—membuat banyak orang merasa aman selama kehidupan materi mereka tetap nyaman.

Kasus nyata dapat dilihat pada kerusuhan 30 Agustus 2025 yang berujung pada penjarahan rumah anggota DPR di Jakarta (Tempo, 2025). Meski ada simpati publik terhadap aksi tersebut, pada akhirnya kenyamanan materi tetap menjadi prioritas. Ribuan meme dan ejekan yang beredar tidak membawa efek jera bagi penguasa.

Bagikan: