Berita Utama

Meme Sebagai Cermin Post-Kolonialisme

Di era digital saat ini, salah satu bentuk hiburan sekaligus cermin sosial yang paling sering kita temui di media sosial adalah meme—terutama yang menampilkan wajah pejabat negara. Jika dilakukan survei global, hampir pasti Indonesia termasuk negara dengan jumlah meme terbanyak yang menyorot perilaku pejabat publik.


Oleh: Novita Sari Yahya


Fenomena ini tidak hanya menunjukkan tingginya kreativitas masyarakat, tetapi juga menggambarkan keresahan dan kritik sosial terhadap penguasa.

Sastrawan Mochtar Lubis pernah menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa yang artistik. Kreativitas ini tampak jelas dalam cara masyarakat menanggapi situasi politik dan fenomena sosial melalui humor, satire, dan meme yang cepat viral. Namun, jika dicermati lebih dalam, meme juga mencerminkan mentalitas bangsa yang tumbuh dari sejarah panjang penjajahan dan warisan post-kolonial.

Dalam tulisannya di Kompas (4 Desember 2010) berjudul Inlander Dinilai, Rosihan Anwar mengutip pandangan wartawan Belanda Willem Walraven tentang mentalitas “inlander” — sebutan kolonial untuk penduduk pribumi. Dalam suratnya kepada pengarang Rob Nieuwenhuys pada 15 Maret 1941, Walraven menulis bahwa orang Indonesia sangat gemar berpolitik, bahkan dalam kehidupan sehari-hari: “Hidup pun berpolitik, mati pun berpolitik.” Konflik lokal kerap muncul dari hal-hal sepele, menandakan kohesi sosial yang rapuh.

Bagikan: