Oleh: Anang S. Otoluwa
Malam itu saya tiba di Soekarno–Hatta terlalu dini. Masih ada sekitar 2 jam sebelum panggilan boarding untuk penerbangan Jakarta–Palu. Karena bingung menghabiskan waktu, saya tergoda mampir ke tempat pijat refleksi. Dulu, ini seperti menjadi kebiasaan sebelum melakukan penerbangan. Namun, sudah lama saya tidak melakukannya lagi.
Pijat refleksi, bagi saya, seperti menjadi bonus perjalanan. Kaki dipijat, pikiran dibuat tenang, dan tubuh terasa lebih ringan sebelum terkurung di kabin pesawat.
Namun kali ini ada yang berbeda. Dari menit pertama, sensasi pijatan itu terasa datar saja. Tidak terasa lagi sensasi nikmat atau rasa lega yang biasanya muncul saat titik-titik telapak kaki ditekan.
Usai dipijat, sambil berjalan menuju gate, saya mulai bertanya-tanya. Apa yang berubah? Terapisnya? Tekniknya? Atau diri saya?
Saya lebih percaya pada jawaban terakhir itu. Tak hanya di bandara, tetapi dimana saja, saya sudah jarang sekali mengunjungi tempat pijat. Dan ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan baru saya, berlari.
Sudah beberapa bulan terakhir, saya mulai konsisten berlari: 5 km per sesi, empat kali seminggu. Ritme yang teratur ini, mungkin membuat tubuh saya beradaptasi dengan cara yang tidak saya sadari.
