Berita Utama

Lari dari Pijat Refleksi?

Keempat, sensitivitas saraf berubah.
Pada orang yang aktif berolahraga, stimulus tekanan di titik refleksi sering terasa berbeda. Saraf dan jaringan di telapak kaki menjadi lebih “terlatih”, sehingga pijatan tidak lagi memberi kejutan atau rasa lega seperti sebelumnya.

Perubahan-perubahan kecil ini membuat pijat refleksi bukan lagi menjadi kebutuhan fisiologis bagi pelari. Tubuh sudah menemukan caranya sendiri untuk merilekskan diri.

***

Saat menyusuri koridor menuju pesawat, saya jadi senyum2 sendiri. Ternyata yang berubah bukan tempat pijatnya, tetapi tubuh saya. Hal yang dulu menjadi ritual wajib sebelum terbang, kini tidak memberi efek istimewa.

Semacam paradoks kecil, kebiasaan berlari yang bertujuan menyehatkan tubuh itu, pelan-pelan membuat sebuah kenyamanan lama kehilangan daya tariknya. Saya seperti benar-benar lari dari pijat refleksi. Bukan karena tidak suka, tetapi karena tubuh sudah menemukan bentuk kenyamanannya sendiri.

Dan begitulah, perjalanan mengajarkan hal sederhana namun berarti: ketika kebiasaan sehat hadir, standar kenyamanan pun ikut berubah. Apa yang dulu sangat kita butuhkan, suatu hari terasa tidak lagi mendesak.

Bagikan: