Opini

Hindia Belanda Menggratiskan Sekolah Dokter, Indonesia Kapan?

Oleh: Supriadi Lawani*


Tulisan ini terinspirasi oleh viralnya unggahan seorang dokter yang diduga meledek pasien peserta BPJS yang telah meninggal. Terlepas dari polemik kasus tersebut, peristiwa itu memunculkan kembali pertanyaan mendasar tentang bagaimana sistem pendidikan kedokteran kita membentuk karakter dan orientasi profesi seorang dokter.

Judul tulisan ini tentu bukan untuk memuji kolonialisme. Hindia Belanda adalah rezim penjajahan yang mengeksploitasi negeri ini. Namun, sejarah menyimpan satu ironi yang patut direnungkan.

Lebih dari satu abad lalu, pemerintah Hindia Belanda menjadikan pendidikan dokter sebagai investasi negara. Melalui sistem pendidikan dengan ikatan dinas, pemerintah kolonial membiayai calon dokter karena memahami bahwa tenaga kesehatan merupakan kebutuhan strategis. Tujuannya memang untuk kepentingan administrasi kolonial, tetapi kebijakan tersebut berhasil melahirkan lebih banyak tenaga medis yang tersebar di berbagai wilayah.

Indonesia telah merdeka selama puluhan tahun. Namun hingga kini, pendidikan kedokteran masih menjadi salah satu jenjang pendidikan dengan biaya paling mahal. Di banyak daerah, masyarakat masih mengalami kekurangan dokter, sementara tidak sedikit anak bangsa yang memiliki kemampuan akademik harus mengubur cita-citanya hanya karena terbentur biaya kuliah.

Bagikan: