Pendampingan pun menjadi tulang punggung program. Pendekatan Sekolah Lapang dipilih karena pemberdayaan petani tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sarana produksi. Petani juga perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan menerapkan praktik pertanian yang berkelanjutan. Kegiatan digelar sebulan sekali di Saung Agriculture Learning Center, melibatkan Penyuluh Pertanian Lapangan, dilengkapi dengan distribusi pupuk, demonstrasi di lahan, monitoring, dan pendampingan langsung. Materi mencakup penggunaan pupuk, pengendalian hama dan penyakit, nutrisi tanaman, hingga penyusunan SOP budidaya. Dengan demikian, program tidak berhenti pada pemberian pupuk, melainkan mendorong perubahan kapasitas dan perilaku petani.
Bagi petani, Sekolah Lapang menjadi pengalaman paling berkesan. Mereka tidak hanya menerima pupuk, tetapi juga memperoleh pengetahuan yang bisa langsung diterapkan di lahan sendiri. Sebagian bahkan sudah memahami cara membuat pupuk Bioferdom secara mandiri. Setidaknya begitu yang dirasakan Benny, Anto dan puluhan petani lain. “Kalau ditanya, ya kami sangat terbantu dengan Program Sekolah Lapang. Banyak ilmu baru di bidang pertanian, khususnya jagung yang kami dapatkan dari sekolah itu. Kami harap program ini terus dipertahabkan, Bukan hanya untuk kami, tapi bagi petani lain yang belum tersentuh,” kata Benny.
Keberlanjutan yang Diharapkan

