Bioferdom dikembangkan dengan memanfaatkan produk samping dari proses pemulihan sulfur di fasilitas operasional perusahaan. Melalui proses pengolahan dan pencampuran dengan bahan organik berupa kotoran ternak sapi, material tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung budidaya jagung. Penerapannya di lahan petani kemudian disertai pendampingan dan pemantauan agar penggunaan pupuk menjadi bagian dari praktik pertanian yang berkelanjutan. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, Pertamina EP Donggi Matindok Field mengolah biosulfur slurry dari Biological Sulfur Recovery Unit (BSRU) dengan mencampurkannya bersama kotoran ternak sapi. Hasilnya menjadi pupuk organik yang aman dan efektif untuk budidaya jagung. Inovasi ini mengubah produk samping operasional menjadi sumber daya yang memberi nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan bagi petani di Desa Kayowa.
Sepanjang 2025–2026, sebanyak 83 ton Bioferdom telah diserap petani. 53 ton di antaranya sudah diaplikasikan di lahan masing-masing, ditambah permintaan terbaru sebesar 30 ton.
