Empat bulan merawat, menunggu, dan berharap akhirnya tiba pada pagi itu, 4 Juni 2026. Panen perdana program Bioferdom dari Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) bukan sekadar memetik hasil bumi. Bagi Benny yang telah bertani sejak 2018, ini adalah bukti bahwa tanah Kayowa masih mampu memberi lebih.
“Puji Tuhan, hasil panen naik hampir dua kali lipat. Kalau begini kami lebih semangat untuk bertani,” ujarnya, suara yang biasa pelan kini penuh semangat.
Di rumah, Ester, istri Benny, ikut merasakan getar kebahagiaan itu. Bersama Billy dan Johan, kedua anaknya, ia membayangkan dapur yang lebih terisi dan biaya sekolah serta kuliah yang lebih ringan. “Kami sangat senang dengan hasil panen yang meningkat karena bisa memenuhi kebutuhan dapur dan pendidikan anak-anak, seperti bisa membiayai kebutuhan sekolah dan kuliah,” katanya lembut saat diwawancara wartawan, belum lama.
Anto pun tak kalah beruntung. Sejak 2019 ia menggantungkan hidup lima anggota keluarganya pada ladang jagung. Kini, setiap tongkol yang dipanen membawa tanggung jawab sekaligus peluang memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menyisihkan modal. “Paling tidak, musim tanam berikut kami tidak lagi bergantung pada pinjaman tengkulak,” katanya.
