Data pendampingan mencatat produktivitas jagung meningkat dari 3,2 ton menjadi 6,1 ton per hektare dalam satu musim tanam ini. Petani merasakan kenaikan sekitar 3,1 ton per hektare—angka yang sebelumnya belum pernah mereka capai. Paling tinggi yang pernah didapat hanya 4 ton, itupun empat atau lima tahun lalu. Dengan harga jagung sekitar Rp6.000 per kilogram, kenaikan produktivitas tersebut memberi tambahan nilai sekitar Rp18,6 juta per hektare.
Bukan hanya hasil yang naik. Biaya produksi pun lebih hemat. Penggunaan pupuk kimia turun dari 15 karung (750 kg) menjadi 12 karung (600 kg) per hektare, menghemat sekitar Rp450.000. Pestisida yang dulu empat botol kini cukup dua botol karena dosis dan sasaran yang lebih tepat, menghemat Rp600.000. Total penghematan mencapai Rp1,05 juta per hektare, belum termasuk tambahan nilai dari panen yang lebih lebat yang mencapai sekitar Rp18,6 juta per hektare (berdasarkan harga jagung Rp6.000/kg).
Kelompok tani yang beranggotakan 25 orang ini rata-rata menopang tiga hingga empat anggota keluarga. Manfaatnya merambat lebih luas dari sekadar petani di ladang.
