Tahun 2016 menjadi salah satu periode paling genting dalam sejarah keamanan Sulawesi Tengah. Di tengah lebatnya hutan pedalaman Poso, kelompok bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di bawah pimpinan Santoso alias Abu Wardah menebar ketakutan. Serangkaian aksi kekerasan terhadap warga sipil, penyerangan aparat, hingga deklarasi baiat kepada ISIS menjadikan wilayah ini sebagai titik rawan nasional.
Untuk meredam ancaman tersebut, pemerintah pusat meluncurkan Operasi Tinombala pada Januari 2016—sebuah operasi gabungan besar yang melibatkan TNI dan Polri dengan misi menumpas jaringan terorisme dan memulihkan rasa aman masyarakat.
Di tengah medan ekstrem—perbukitan curam, hutan rapat, dan cuaca yang tak menentu—muncul satu sosok perwira yang memainkan peran penting di balik layar operasi. Saat itu berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) dan menjabat sebagai Dirreskrimum Polda Sulawesi Tengah, Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf memimpin aspek penyidikan dan dukungan intelijen.
Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis bukti, ia mengoordinasikan pengumpulan informasi, analisis forensik, serta penguatan penyidikan tindak pidana terorisme. Peran ini menjadi krusial dalam memetakan pergerakan kelompok MIT yang dikenal berpindah-pindah dan sulit dilacak.
Upaya tersebut mencapai titik penting pada 18 Juli 2016, ketika Santoso berhasil dilumpuhkan dalam baku tembak di wilayah Poso Pesisir. Operasi kemudian berlanjut hingga 2017, menekan kekuatan kelompok bersenjata, menyita logistik, serta mengembalikan rasa aman bagi masyarakat.
Di balik keberhasilan itu, ketelitian, keberanian, dan kepemimpinan Helmi menjadi salah satu fondasi penting—sebuah catatan yang kemudian menguatkan reputasinya sebagai perwira reserse yang tangguh.
Putra Daerah dengan Rekam Jejak Prestasi
Lahir di Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada 8 Mei 1971, Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf adalah potret putra daerah yang ditempa oleh pengalaman panjang dan kembali mengabdi untuk tanah kelahirannya.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1993 ini dikenal sebagai perwira tinggi Polri yang matang di bidang reserse—sektor yang menjadi garda depan dalam menjaga stabilitas hukum dan keamanan.
Kariernya terbentang luas di berbagai wilayah dengan karakter tantangan yang berbeda. Ia pernah menjabat Kapolres Bener Meriah dan Kapolres Aceh Singkil, sebelum menapaki sejumlah posisi strategis, mulai dari Wakil Direktur Reskrimsus Polda Kepulauan Riau, Dirreskrimum Polda Sulteng, hingga berbagai jabatan penting lain di tingkat Polda dan Mabes Polri. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Wadirtipidum Bareskrim Polri pada 2024, sebelum kembali ke daerah sebagai Wakapolda Sulawesi Tengah pada 11 November 2024 dengan pangkat Brigadir Jenderal Polisi.
Di setiap penugasan, ia menunjukkan kinerja nyata. Saat menjabat Dirresnarkoba Polda NTB, ia berhasil membongkar jaringan narkotika besar. Sementara di Polda Sulawesi Selatan, timnya mengungkap kasus korupsi pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan kredit fiktif yang menyelamatkan keuangan negara hingga puluhan miliar rupiah.
Kekuatan Helmi tidak hanya terletak pada pengalaman lapangan, tetapi juga pada fondasi akademik yang kokoh. Ia menyelesaikan S2 Ilmu Hukum di Universitas Tanjungpura dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Diponegoro pada 2023. Perpaduan ini menjadikannya pemimpin yang mampu mengambil keputusan berbasis data, hukum, dan realitas sosial.
Sejak menjabat Wakapolda Sulteng, ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang humanis namun tegas. Ia aktif turun ke lapangan, memantau langsung kondisi keamanan, membuka ruang peningkatan kompetensi penyidik, serta mendorong sinergi antara Polri, TNI, dan pemerintah daerah. Kepeduliannya terhadap pendidikan dan keterbukaannya terhadap aspirasi masyarakat turut memperkuat kepercayaan publik.
Sebagai putra asli Sulawesi Tengah, Helmi memiliki pemahaman mendalam tentang karakter daerah—mulai dari dinamika sosial, potensi konflik, hingga strategi pencegahan kejahatan yang efektif. Pengalaman panjangnya, termasuk keterlibatan dalam Operasi Tinombala, menjadi modal penting dalam membaca dan mengelola tantangan keamanan daerah.
Dengan rekam jejak yang bersih, prestasi yang terukur, dan dedikasi yang konsisten, Brigjen Pol. Dr. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf tampil sebagai figur yang matang dan layak memimpin Polda Sulawesi Tengah ke depan.
Di tangannya, harapan akan institusi Polri yang semakin profesional, responsif, dan dicintai masyarakat bukan sekadar harapan—melainkan arah nyata menuju Sulawesi Tengah yang aman, damai, dan sejahtera.(*/rdks)












