Berita Utama

Di Balik Hutan Poso yang Bergemuruh: Kepemimpinan Helmi Kwarta dalam Operasi Tinombala


Tahun 2016 menjadi salah satu periode paling genting dalam sejarah keamanan Sulawesi Tengah. Di tengah lebatnya hutan pedalaman Poso, kelompok bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di bawah pimpinan Santoso alias Abu Wardah menebar ketakutan. Serangkaian aksi kekerasan terhadap warga sipil, penyerangan aparat, hingga deklarasi baiat kepada ISIS menjadikan wilayah ini sebagai titik rawan nasional.


Untuk meredam ancaman tersebut, pemerintah pusat meluncurkan Operasi Tinombala pada Januari 2016—sebuah operasi gabungan besar yang melibatkan TNI dan Polri dengan misi menumpas jaringan terorisme dan memulihkan rasa aman masyarakat.

Di tengah medan ekstrem—perbukitan curam, hutan rapat, dan cuaca yang tak menentu—muncul satu sosok perwira yang memainkan peran penting di balik layar operasi. Saat itu berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) dan menjabat sebagai Dirreskrimum Polda Sulawesi Tengah, Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf memimpin aspek penyidikan dan dukungan intelijen.

Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis bukti, ia mengoordinasikan pengumpulan informasi, analisis forensik, serta penguatan penyidikan tindak pidana terorisme. Peran ini menjadi krusial dalam memetakan pergerakan kelompok MIT yang dikenal berpindah-pindah dan sulit dilacak.

Bagikan: