“Latar belakang reserse itu bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga membentuk cara berpikir yang solutif dan terukur dalam menghadapi persoalan,”
Nadjamudin Mointang
BANGGAIPOST, LUWUK – Nama Brigjen Pol. Dr. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf kembali mencuat dalam bursa figur potensial yang dinilai layak memimpin Polda Sulawesi Tengah ke depan. Rekam jejak panjangnya di institusi Polri dinilai tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga sarat nilai integritas dan pendekatan humanis.
Hal tersebut disampaikan oleh Nadjamudin Mointang, warga Banggai yang saat ini berkarier di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB). Ia menilai, Helmi merupakan sosok yang terbentuk dari pengalaman lapangan yang matang, khususnya di bidang reserse.
Helmi bersama kawan-kawan semasa kecil dan remaja di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah
“Latar belakang reserse itu bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga membentuk cara berpikir yang solutif dan terukur dalam menghadapi persoalan,” ujar Nadjamudin.
Menurutnya, pengalaman Helmi dalam Operasi Tinombala menjadi salah satu bukti kapasitasnya dalam menangani persoalan keamanan yang kompleks. Operasi tersebut menuntut kemampuan koordinasi lintas sektor, ketahanan dalam tekanan tinggi, hingga pendekatan persuasif kepada masyarakat di wilayah rawan konflik.
Tidak hanya di bidang operasional, Helmi juga dinilai berhasil menunjukkan kinerja konkret saat menjabat di Direktorat Reserse Narkoba Polda NTB. Di bawah kepemimpinannya, upaya pemberantasan narkoba tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga menyentuh aspek pencegahan dan edukasi.
“Capaian predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) tahun 2021 itu bukan hal biasa. Itu menunjukkan komitmen terhadap reformasi birokrasi dan tata kelola yang bersih,” jelas Nadjamudin.
Lebih jauh, ia menilai kekuatan Helmi tidak hanya terletak pada profesionalitas, tetapi juga pada sisi personal. Sosoknya dikenal sederhana, mudah bergaul, dan mampu membangun relasi sosial yang kuat, termasuk dalam komunitas pertemanan yang telah terjalin lama.
Dalam konteks kepemimpinan modern, kata dia, pendekatan humanis menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas organisasi sekaligus membangun kepercayaan publik.
Terkait peluang menjadi Kapolda Sulawesi Tengah pada 2026, Nadjamudin menyebut Helmi sebagai salah satu kandidat yang cukup kompetitif. Selain rekam jejak, faktor sebagai putra daerah dinilai menjadi nilai tambah dalam memahami karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penentuan jabatan Kapolda tetap mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari kebutuhan organisasi Polri secara nasional, senioritas, hingga pertimbangan strategis pimpinan.
“Semua kembali pada dinamika institusi. Tapi jika kriterianya adalah pengalaman, integritas, dan kepemimpinan yang humanis, beliau adalah salah satu figur yang layak diperhitungkan,” pungkasnya.(*/alin)












