Oleh: Herdiyanto Yusuf, Pemerhati Politik, tinggal di Luwuk-Banggai
Poros tengah memang menarik di atas kertas. Anwar Hafidz dapat menjadi titik temu bagi berbagai kekuatan yang selama ini tercecer: aktivis muda, organisasi kepemudaan, kalangan profesional, hingga kelompok masyarakat yang mulai lelah dengan polarisasi dua kutub
Saya sebetulnya belum berniat menulis soal ini. Pilkada masih jauh, masih sekitar empat tahun lagi. Perhatian publik saat ini pun masih tersedot ke berbagai isu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: pergerakan kurs rupiah, kasus di Badan Gizi Nasional (BGN), hingga berbagai persoalan lokal yang berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak.
Namun belakangan, wacana ini mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Nama-nama mulai disebut, peta-peta politik mulai digambar, dan berbagai spekulasi tentang Pilkada Banggai 2030 perlahan bermunculan.
Karena itu, izinkan saya ikut bercerita. Bukan untuk menggurui, apalagi mengklaim mengetahui apa yang akan terjadi. Tulisan ini lebih merupakan upaya berbagi pandangan sekaligus mencoba membaca kemungkinan-kemungkinan yang dapat membentuk masa depan politik Kabupaten Banggai beberapa tahun ke depan.
***
Sepekan lalu saya didatangi seorang anak muda visioner. Ia memiliki pandangan luas tentang masa depan Kabupaten Banggai. Bukan orang partai politik, tetapi memiliki akar pergaulan dan irisan yang kuat di dunia aktivisme dan organisasi kepemudaan. Saya tidak perlu menyebut namanya. Yang menarik justru ide-idenya.
Kami berbincang panjang tentang Banggai. Tentang kekayaan sumber daya alam yang selama ini lebih sering dibanggakan daripada benar-benar dioptimalkan. Tentang gas, industri hilir, kawasan pesisir, perikanan, perkebunan, hingga peluang investasi yang menurutnya dapat menjadi fondasi kemandirian fiskal daerah.
Saya tertarik ketika ia mulai mengurai angka-angka. Namun ketika pembicaraan beralih ke politik, minat saya mulai menurun.
Pilkada masih empat tahun lagi. Terlalu dini. Peta politik Banggai selama ini tampak relatif sederhana: dua kutub besar mendominasi. Di satu sisi kekuatan petahana yang berpusat pada dinasti dan jaringan politik keluarga Tamoreka. Di sisi lain kelompok yang dalam Pilkada 2024 bernaung di bawah figur Sulianti Murad. Kedua kubu ini telah membentuk basis dukungan yang solid.
Karena itulah saya menganggap pembicaraan tentang Pilkada 2030 belum terlalu menarik.
Tetapi anak muda itu rupanya melihat sesuatu yang berbeda.
Menurutnya, justru karena dua kutub itu sama-sama kuat, ruang politik Banggai sedang menunggu lahirnya poros ketiga — sebuah poros tengah yang tidak dibangun dari sentimen anti-petahana maupun anti-Murad, melainkan dari gagasan pembangunan yang lebih luas.
“Sekarang orang melihat politik Banggai hanya dua warna,” katanya. “Padahal masyarakat tidak semuanya berada di salah satu kubu itu.”
Ia lalu menyebut sebuah nama: Gubernur Anwar Hafidz. Tentu saja saya paham maksudnya. Anwar bukan lah calon yang akan turun langsung di gelanggang Pilkada Banggai, melainkan sebagai simbol dan poros yang bisa menjadi titik temu. Sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulteng, Anwar dianggap bisa menjadi gerbong bagi kekuatan ketiga yang lebih luas
Saya terdiam beberapa detik. Bukan karena nama itu asing, melainkan karena bobotnya.
Secara politik, Anwar Hafidz bukan orang luar bagi Banggai. Jejaknya kuat, pengalaman birokrasi panjang, jaringan pemerintahan luas, dan posisinya sebagai gubernur memberinya exposure yang tidak dimiliki banyak tokoh. Yang lebih penting, ia bisa dilihat sebagai simbol sekaligus gerbong Partai Demokrat Sulteng. Partai yang pada Pileg lalu tidak memperoleh satu kursi pun di DPRD Kabupaten Banggai. Ini jelas menjadi kepentingan strategis bagi Demokrat untuk membangun kekuatan di salah satu kabupaten terbesar di Sulteng.
Namun di sinilah skeptisisme saya muncul.
Hubungan Anwar Hafidz dan klan Tamoreka sejauh ini terlihat cukup mesra dan baik. Sebagai Gubernur, ia melantik Amirudin Tamoreka dan mendukung pemerintahan petahana. Sementara Benny Tamoreka — adik kandung Bupati Amirudin yang juga Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Banggai — semakin menegaskan posisi klan Tamoreka sebagai kekuatan utama. Headline “Beny Versus Sulianti” yang kini beredar di media online hanyalah pemanasan awal dari pertarungan yang sudah terlihat jelas.
Dalam situasi seperti ini, apakah Anwar Hafidz benar-benar akan membangun poros tengah yang independen? Atau justru lebih memilih menyerahkan mesin Partai Demokrat untuk mendukung kubu Tamoreka/Benny?
Kedua skenario sama-sama masuk akal.
Poros tengah memang menarik di atas kertas. Anwar bisa menjadi titik temu bagi kekuatan-kekuatan yang selama ini tercecer — aktivis muda, organisasi kepemudaan, kelompok masyarakat yang lelah dengan polarisasi dua kutub. Tapi tantangannya sangat berat: Demokrat harus membangun mesin politik dari nol di Banggai, sementara hubungan baik dengan Tamoreka bisa menjadi batu sandungan politik dan citra.
Di sisi lain, koalisi dengan kubu petahana jauh lebih realistis. Memberi dukungan Demokrat kepada Benny Tamoreka atau kandidat dari klan Tamoreka akan menjadi win-win: Tamoreka mendapat tambahan suara, Anwar memperkuat posisi Demokrat di Banggai tanpa harus mengambil risiko besar sebagai “dirigen” sebuah poros baru dengan calon sendiri. Lagipula, politik adalah soal kalkulasi kepentingan, bukan sekadar wacana gagasan.
Anak muda itu tersenyum saat saya menyampaikan keraguan ini. Ia tetap optimis bahwa polarisasi yang terlalu lama justru akan menciptakan ruang bagi pemain baru. Masyarakat, katanya, lama-lama akan mencari pilihan ketiga — bukan karena membenci kedua kubu, tapi karena menginginkan narasi dan tawaran yang berbeda. Termasuk narasi pembangunan, tentu dengan ide-ide yang berbeda.
Saya mengangguk, tapi tetap skeptis.
Sejarah politik daerah sering menunjukkan bahwa poros tengah yang kuat jarang lahir dari ruang kosong. Biasanya ia lahir dari pecah kongsi di dalam kubu besar, atau dari krisis yang memaksa realignment kekuatan. Saat ini, hubungan Anwar-Tamoreka masih terlalu hangat untuk menduga adanya perpecahan.
Namun sebagai latihan membaca masa depan, gagasan itu tetap menarik untuk dipikirkan.
Pertanyaannya, pada 2030 nanti Banggai masih akan berkutat pada pertarungan Klan Benny (Tamoreka) versus Sulianti (Murad)? Ataukah akan muncul poros tengah yang mampu menawarkan sesuatu yang benar-benar baru?
Saya belum tahu jawabannya.(*)












