“Kami sudah dua kali rapat, sekali internal kelompok dan sekali di Kantor Camat. Markiano berjanji akan memulangkan bantuan, tapi sampai hari ini tidak ada realisasi. Semua alat disimpan di rumahnya dan digunakan untuk kepentingan pribadi,” tambahnya.

Senada, Yaris Lagarinda, anggota lainnya, mengungkapkan bahwa lahan sawah seluas 30 hektare yang seharusnya menjadi objek program bantuan, kini mangkrak dan tidak diolah. “Bagaimana mau diolah kalau alat dan sarana tidak bisa diakses? Kandang sapi dan gudang juga terbengkalai,” jelasnya.
Lebih jauh, Runia Moko, juga dari kelompok yang sama, membenarkan bahwa kelompok tidak pernah mendapat kejelasan tentang sapi bantuan. Ia menyoroti pernyataan dari pihak UPT Pertanian, yang menyebut sapi tersebut bukan berasal dari program pemerintah, melainkan hasil “lobi pribadi” Markiano di Palu.
“Kalau itu benar, sangat janggal. Kenapa bisa disalurkan atas nama kelompok kalau bukan bantuan resmi? Ini perlu diselidiki,” tegas Runia.

