Para calon penantang, termasuk Hadianto–Pasha (jika benar-benar maju) punya tantangan sekaligus peluang. Mereka harus mampu membangun narasi tandingan yang lebih konkret: apa pembeda utama mereka dibanding pemerintahan sekarang? Program apa yang bisa lebih langsung menyentuh masyarakat yang belum terjangkau? Bagaimana merebut hati pemilih muda yang sudah menikmati Berani Cerdas sekaligus menarik simpati masyarakat desa yang merasakan Berani Sehat?
Tanpa jawaban yang kuat atas pertanyaan-pertanyaan itu, pertarungan nanti berisiko menjadi kontestasi antara popularitas melawan kepuasan publik parsial. Dan dalam banyak kasus politik lokal, kepuasan publik (meski belum merata) biasanya lebih sulit dikalahkan.
Meski begitu, politik tetaplah politik. Selalu ada ruang kejutan. Bagi para penantang, tiga-empat tahun adalah waktu yang panjang. Di inetrval waktu ini, ekonomi masih bisa berubah. Konflik elite bisa pecah. Dan yang biasanya paling sulit diterka, isu korupsi atau penurunan kualitas pelayanan bisa muncul kapan saja. Sudah sering, pemimpin dengan elektoral yang kuat tiba-tiba saja ditangkap KPK. Bisa jadi, karena memang takdir selalu tak pernah bisa diterka.(*)
